PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS WAHYU

Cover Pendidikan Karakter
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS WAHYU
Sebuah Telaan Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam
Oleh : DR. Ahmad Mansur, SE, M.Pd.I
Dosen Tetap Institut Agama Islam Al-Azhaar
Homebase pada Sekolah Pascasarjana Institut Agama Islam Al-Azhaar Lubuklinggau
 
Karakter diambil dari bahasa Yunani ‘charakter’ yang berasal dari kata‘kharassein’ yang berarti memahat atau mengukir. Dalam bahasa latin disebut kharakter, kharassein, kharax, bermakna watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak, dan dalam bahasa Inggris “character” berarti; “watak, karakter, sifat, peran dan huruf. Dapat juga diartikan sebagai mental or moral qualities that make think diffrent from others, atau all those qualities that make a thing what it is diffrent from others. Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri.  Karakter juga bisa diartikan sebagai sikap, tabiat, akhlak, kepribadian yang stabil yang merupakan hasil dari proses konsolidasi secara progresif dan dinamis. Menurut pusat bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti prilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen dan watak”. Adapun yang dimaksud berkarakter adalah “berkepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak”.
Islam menggunakan istilah ‘akhlak’ untuk mengekspresikan karakter manusia, sebagaimana sabda Rasulullah Saw;
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“ Sesungguhnya tiada aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq”.
 
Para ahli, baik Timur maupun Barat memberikan pengertian yang berbeda tentang karakter, namum secara substansial bermaksud pada makna yang sama. Berikut adalah definisi karakter dalam perspektif pemikiran Islam dan Barat, antara lain;
Imam al-Ghazali mengatakan karakter itu lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul  tidak perlu dipikirkan lagi.
Ibn Taimiyah berpendapat bahwa karakter atau tabiat adalah fitrah manusia. Fitrah tersebut menjadi bahasan pokok dalam pendidikan. Bahasan pokok tersebut mengenai dimensi ibadah untuk mentauhidkan Allah SWT agar menjadi kebutuhan. Sehingga sumber kekuatan, kebahagiaan (sa’adah), dan islah kepribadian adalah iman. Maka ciri karakter ilmu bagi Ibn Taimiyah adalah al-ilm an-nafi’, merujuk pada firman Allah Surah Ali Imron ayat 18;
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
 
Dalam surah Saba’ ayat 6;
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.
 
Aristoteles menyatakan karakter itu erat kaitannya dengan kebiasaan yang kerap dimanifestasikan dalam tingkah laku. Selanjutnya Simon Philips mengatakan karakter merupakan suatu kumpulan tata nilai yang menuju suatu system , yang melandasi pemikiran, sikap dan prilaku yang ditampilkan.
Muhammad Abdul Khalik (1983) menyebutkan kepribadian atau watak adalah;“Majmu’ah al-shifah al-‘aqliyyah wa al-khuluqiyah allati yamtazu biha ‘an ghairihi”, artinya “ sekumpulan sifat (karakter) yang bersifat aqliyah (pengetahuan), prilaku dan tampilan hidup yang dapat membedakan seseorang dengan lainnya.
Tadkirotun Musfiroh (2008) mengatakan bahwa karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), prilaku (behaviors), motivasi (motivations) dan keterampilan (skills).
Tim Pengembang Pendidikan Karakter, Depdiknas (2010) menuliskan bahwa karakter merupakan perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, danperbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Orang yang perilakunya sesuai dengan norma-norma disebut insan berkarakter mulia. Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, dan nilai-nilai lainnya. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut.
Avatar

sps.iai.al-azhaar.lubuklinggau

Sekolah Pascasarjana Institut Agama Islam Al-Azhaar merupakan Kampus pascasarjana yang berlokasi di Jl. Pelita No. 364 Kel. Pelita Jaya RT.07 Kec. Lubuklinggau Barat I Kota Lubuklinggau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top