PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM

Cover IPI

Definisi Pendidikan

Sebelum munculnya definisi pendidikan Islam para pakar terlebih dahulu memunculkan definisi tentang pendidikan. Pendidikan bersifat umum dan menjadi asas dari semua aspek pendidikan manusia. Dari definisi pendidikan inilah seterusnya muncul turunan yang lebih spisifik seperti pendidikan olahraga, pendidikan keterampilan dan seni, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan akhlak, pendidikan karakter, dan termasuk di dalamnya pendidikan Islam.

Pendidikan didefinisikan secara beragam sehingga menunjukkan keluasan makna dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Walaupun demikian, ragam definisi tersebut secara substansial tidak merubah esensi dari inti pendidikan dan sama sekali tidak mendistorsi hakekat pendidikan itu.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan pendidikan sebagai suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.[1] Sedangkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa, dan negara.[2]

 

Pendidikan Menurut Para Ulama

Para ulama salafus shaleh juga memiliki pandangan yang berbeda tentang ini. Ibnu Sina dalam pengertian pendidikan lebih mengarah kepada apa tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan. Sehingga pendidikan bisa dipersiapkan dalam kerangka mencapai tujuan itu.[3] Sedangkan Al-Ghazali mengurai pendidikan itu pada lima aspek yang meliputi pendidikan jasmaniah, pendidikan akhak, pendidikan akal, dan pendidikan sosial.[4] Pokok-pokok pemikiran Al-Ghazali secara singkat bisa diklasifikasikan ke dalam tiga hal : pertama, berisi penjelasan tentang keutamaan ilmu, termasuk upaya memperolehnya; kedua, berisi penggolongan ilmu penge-tahuan dan ketiga, berisi kewajiban-kewajiban pokok bagi seorang guru dan anak didik.[5] Berbeda dengan Al-Ghazali, Ibnu Khaldun dalam kitabnya “Muqaddimah” membagi ilmu menjadi dua macam. Pertama, kelompok ilmu tradisional (Naqliyah), yaitu ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits, antara lain; ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu fikih, ilmu kalam, ilmu bahasa arab, ilmu tasawwuf, dan ilmu ta’bir mimpi; dan yang kedua; Ilmu-Ilmu Filsafat/Rasional (Aqliyah) seperti Ilmu Logika, Ilmu Fisika, Ilmu Metafisika, Ilmu Matematika.[6] Disamping itu Ibnu Khaldun membagi ilmu menurut kepentingannya pada empat macam, yaitu ; (1) Ilmu Agama (syariat) yang terdiri dari tafsir, hadits, fikih dan ilmu kalam; (2) Ilmu Aqliyah yang terdiri dari ilmu kalam (fisika) dan ilmu ketuhanan (metafisikan); (3) Ilmu alat, yaitu ilmu yang membantu mempelajari ilmu agama (syariat) yang terdiri dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu pelajaran agama; dan (4) Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat dan logika.[7]

Muhammad Abduh lebih simpel dalam mendefinisikan pendidikan. Menurutnya pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya pada batas-batas kemungkinan seseorang mencapai kebahagian dunia dan akhirat.[8]  Sejalan dengan itu Hassan Al-Banna mengarah-kan pendidikan pada pemecahan permasalahan yang muncul. Hasan Al-Banna menganggap pendidikan agama dan pendidikan umum yang berjalan secara terpisah pada masanya merupakan permasalahan dikotomistis yang mengingkari tujuan hidup manusia, yaitu kebahagian dunia dan akhirat. Karena itu Hasan Al-Banna melakukan rekonstruksi pendidikan dengan mengintegrasikan sistem pendidikan agama dan pendidikan umum.[9]

Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar pendidikan asal Indonesia yang kemudian menetap dan menjadi guru besar di Malaysia, memaknai pendidikan sebagai “al-ta’dîb”. Pernyataannya didasarkan pada hadits Nabi;[10] “Tuhanku telah mendidikku, maka ia menjadikan baik pendidikanku”. Al-Attas menggunakan kata “al-ta’dîb” dalam terminologi pendidikan sebagai sebuah cara Tuhan mengajarkan Nabi-Nya. Dalam “Islam dan Sekularisme”, Al-Attas menyebutkan bahwa pendidikan adalah mere-sapkan dan menanamkan adab pada manusia. Dari sini dapat difahami bahwa yang dimaksud dengan ta’dîb dalam terminologi Al-Attas secara sederhana dapat difahami sebagai suatu muatan atau kekurangan yang mesti di-tanamkan dalam proses pendidikan Islam (ta’dîb).[11]

Dalam konteks ini Al-Attas mendefinisikan pendidikan sebagai berikut :[12]

“Adab berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarki sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat mereka dan tentang tempat sesesorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniyah, intelektual, dan ruhaniyah seseorang”.

Tokoh pemikiran pendidikan Islam yang sekaligus pendiri organisasi Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, membagi pendidikan dalam tiga jenis : yaitu (a) dalam rangka menumbuhkan karakter manusia yang baik berdasarkan al-Quran dan Sunnah, disebut pendidikan moral dan akhlak; (b) dalam rangka menumbuhkan kesadaran individu yang utuh, yang berkesinambungan antara keyakinan dan intelektualitas, antara akal dan pikiran serta antara dunia dan akhirat, disebut pendidikan individu; (c) dalam rangka usaha menumbuhkan keseim-bangan dan keinginan hidup dalam masyarakat, disebut pendidikan kemasyarakatan.[13]

Sebuah usaha besar yang tak terbantahkan dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam di Indonesia adalah langkah modernisasi pendidikan oleh KH. Ahmad Dahlan.[14] Sedangkan KH. Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri Nahdlatul Ulama lebih banyak menyampaikan pokok-pokok pikirannya tentang pendidikan lewat karya-karya monomentalnya, seperti kitab Adab al-‘Âlim wa al-Muta’allim fî mâ Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fî Maqâmâti Ta’lîmihi,[15] yang dicetak pertama kali pada tahun 1415H. Kitab ini sebagian besar membahas masalah-masalah pendidikan terutama masalah pendidikan etika. KH. Hasyim sebagai tokoh yang alim dalam bidang hadits dan tafsir al-Qur’an, kitab tersebut berisi penjelasan dengan dalil al-Qur’an dan hadits, di samping pendapat para ulama.[16] Karya besar KH. Hasyim Asy’ari tersebut menjadi rujukan para santri pondok pesantren pada masanya, khususnya untuk kajian bidang akhlak.[17]

 

Pendidikan Dalam Pandangan Barat

Setelah menelaah beragam definisi tentang pendidikan oleh para intelektual muslim masa awal Islam dan masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, penulis menganggap perlu mengangkat pandangan para intelektual Barat untuk kepentingan analisis yang lebih dalam, tunjuk saja seperti John Dewey, menyatakan: “Pendidikan merupakan suatu proses pengalaman. Karena kehidupan merupakan pertumbuhan, maka pendidikan berarti membantu pertum-buhan batin manusia tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan adalah proses penyesuaian setiap fase dan menambah kecakapan dalam perkembangan seseorang melalui pendidikan[18].

Pernyataan ini diperkuat oleh M.J. Langeveld, dimana ia menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya dalam membimbing manusia yang belum dewasa ke arah kedewasaan. Pendidikan ialah sebuah usaha dalam menolong anak untuk melakukan tugas-tugas hidupnya, agar mandiri dan bertanggung jawab secara susila. Pendidikan juga diartikan sebagai cara atau upaya untuk mencapai penemuan diri dan tanggung jawab[19].

Selanjutnya Herman H. Horn, mengatakan pendidikan adalah sebuah proses dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifes-tasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia. Dalam hal ini Carter V. Good, menegaskan “pendidikan merupakan suatu proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakat. Proses dimana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan yang terpimpin khususnya di dalam lingkungan sekolah sehingga dapat mencapai kecakapan sosial dan dapat mengembangkan kepribadiannya”.[20]

 

Pendidikan Menurut Para Tokoh Nasional

Di Indonesia, para pakar pendidikan juga ikut memberikan kontribusi dan wawasan berbeda dalam pendefinisian pendidikan. Walaupun secara substantif tidak bergerak dari ruang bimbingan dan pembinaan yang dilakukan secara sadar untuk membentuk watak, kepribadian dan akhlak serta dalam rangka menyiapkan kehidupan yang bahagia di masa datang. Para pakar tersebut antara lain[21] :

(1)  Ki Hajar Dewantara, menurutnya “pendidikan adalah suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya ialah bahwa pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya”.[22].

(2)  Selanjutnya Ahmad D. Marimba menyatakan, “pendi-dikan merupakan suatu proses bimbingan yang dilaksa-nakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, yang tujuannya agar kepribadian peserta didik terbentuk dengan sangat agung. Kepribadian yang dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar, pandai secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara karakter”.[23]

(3)  Sedangkan Hasan Langgulung memberikan pengertian tidak jauh berbeda dengan Naquib Al-Attas, yang cenderung menggunakan kata “ta’lîm, tarbiyah dan ta’dîb” dalam terminologi pendidikan.[24] 

(4)  Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam mendefinisikan pendidikan menekankan keterlibatan subyek dan obyek (pelaku), dimana pendidikan menurutnya ialah berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang (pendidik) terhadap seseorang (anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif.[25]

(5)  Agus Dariyo sepertinya tidak jauh dari konsep UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, yang mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[26]

Masih banyak lagi pakar pendidikan Indonesia yang dapat digali lebih dalam berkaitan dengan definisi pendidikan ini, tetapi melalui tokoh-tokoh di atas sudah cukup untuk merepresentasikan secara keseluruhan.

Memperhatikan luasnya pengertian dan definisi pendidikan, maka di sini dapat disimpulkan antara lain: (1) Pendidikan ialah bimbingan yang diberikan kepada anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya untuk mencapai tingkat kedewasaan dan bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan, membentuk karakter diri dan mengarahkan anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan (2) Pendidikan juga bisa diartikan sebagai usaha sadar yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik dalam belajar melalui suatu kegiatan pengajaran, bimbingan dan latihan demi peranannya di masa yang akan datang.

 

Pendidikan Islam Menurut Para Ahli

Berangkat dari definisi pendidikan yang telah diurai-kan di atas, secara lebih spisifik berikut ini akan dibahas mengenai definisi atau pengertian pendidikan Islam. Dalam hal ini para ahli juga memiliki pandangan yang berbeda sehingga perlu pembahasan secara deduktif agar menghasilkan pengertian yang kongkrit dan komprehensif.

Beberapa pakar pendidikan modern yang penting digali gagasannya sebagai sumber analisis antara lain :

(1)  Abuddin Nata, seorang tokoh intelektual yang sangat produktif dengan ide dan gagasan, sekaligus sebagai praktisi pendidikan Islam, menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses pembentukan individu berdasarkan ajaran Islam untuk mencapai derajat yang tinggi sehingga mampu melaksanakan fungsi kekhalifahannya dan berhasil mewujudkan ke-bahagian dunia dan akhirat.[27]

(2)  Ahmadi mendefinisikan pendidikan Islam sebagai usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengem-bangkan fitrah keberagamaan (religiousity) subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam;[28]

(3)  Muhaimin menjelaskan bahwa pendidikan Islam meliputi tiga pengertian, yaitu:

Pertama, pendidikan Islam adalah pendidikan menurut Islam atau pendidikan Islami, yaitu pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Dalam pengertian ini, dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang berdasarkan sumber-sumber dasar Islam;

Kedua, pendidikan Islam adalah pendidikan ke-islaman atau pendidikan agama Islam, yaitu upaya mendidikkan agama Islam atau ajaran dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan hidup) dan sikap hidup seseorang. Dalam pengertian ini pendidikan Islam dapat berwujud ; (a) kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk membantu seorang atau sekelompok peserta anak didik dalam menanamkan dan atau menumbuh-kembangkan ajaran Islam dan nilai-nilainya; (b) segenap fenomena atau peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah tertanamnya nilai atau tumbuhkembangnya ajaran Islam pada salah satu atau beberapa pihak dan;

Ketiga, pendidikan Islam adalah pendidikan dalam Islam, atau proses dan praktek penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam realitas sejarah umat Islam. Dalam pengertian ini pendidikan Islam dalam realitas sejarahnya mengan-dung dua kemungkinan, yaitu pendidikan Islam ter-sebut benar-benar sesuai dengan idealitas Islam atau mungkin mengandung jarak kesenjangan dengan idealitas Islam;[29]

(4)  Al-Abrasyi menggunakan kata “al-tarbiyah” dalam mendefinisikan pendidikan Islam. Karena kata “al-tarbiyah” menurutnya mencakup seluruh aspek pen-didikan manusia meliputi ; kebahagiaan hidup dunia-akhirat, kesehatan jasmani, budi pekerti, cinta tanah air, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir pekerjaannya, manis tutur katanya.[30]

(5)  Sementara Al-Attas memandang bahwa pendidikan Islam hendaknya didasarkan pada usaha mewujudkan manusia yang baik atau manusia universal (al-insân al-kâmil) sesuai dengan fungsi penciptaannya, di mana ia membawa dua misi, yaitu (a) Sebagai abd Allah (hamba Allah) dan (b) Khalîfatullah fî al-ardh (wakil Tuhan di muka bumi). Maka sejatinya sistem pendidikan Islam diarahkan untuk merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah Saw. serta berkewajiban me-lahirkan umat muslim yang menampilkan kualitas keteladanan beliau Saw. semaksimal mungkin sesuai dengan potensi dan kecakapan masing-masing[31]

Dari definisi yang dikemukan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah proses pembentukan individu untuk mengembangkan fitrah keagamaannya, yang secara konseptual dipahami, dianalisis serta dikem-bangkan menurut ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah melalui proses pembudayaan dan pewarisan dan pengembangan kedua sumber Islam tersebut pada setiap generasi dalam sejarah umat Islam.

 

[1] http://kbbi.web.id/didik.

[2] UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003.

[3] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus : Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2011), h. 77.

[4] Konsep pendidikan yang dikembangkan Al-Ghazali mencakup lima aspek; yaitu aspek pendidikan jasmaniah, aspek pendidikan akhlak, aspek pendidikan akal, dan aspek pendidikan sosial, yang kesemuanya sudah harus ditanamkan pada anak sejak usia dini. Kelima aspek tersebut harus diwujudkan secara utuh dan terpadu agar dapat menghasilkan manusia seutuhnya. Lihat Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 253-254.

[5] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 89.

[6] Ibnu Khaldun, Mukaddimah, Terjemah Mastur Irham dkk, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar 2011), Pengantar Penerbit Hlm. xiii

[7] Ibnu Khaldun, Mukaddimah, h. Xii-xiii

[8] Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh : Suatu Studi Perbandingan, (Jakarta, Bulan Bintang, 1993), h. 156. Lihat juga Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh h. 123.

[9] Yusuf Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, Terj. Bustami A. Ghani dan Zainal Abidin Ahmad, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 16.

[10] HR. Ibnu Hibban.

[11] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 179-180.

[12] Ibid., h. 180.

[13] Arifin M.T., Gagasan Pembaruan Muhammadiyah dalam Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1987), h. 208-209.

[14] Usaha Muhammadiyah untuk memperbaharui model pendidikan tradisional, yaitu menukar sistem pondok pesantren dengan sistem pendidikan yang modern sesuai dengan tuntutan zaman. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk lembaga pendidikan yang bersifat spesifik, yaitu mengadopsi sistem persekolahan Barat, tetapi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berjiwa nusantara yang mempunyai misi Islami. Lihat Arifin M.T., Gagasan Pembaruan Muhammadiyah dalam Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1987), h. 116. Pendidikan Muhammadiyah diselenggarakan dengan mengikuti teknik penyelenggaraan pendidikan Barat. Lihat Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 199-200.

[15] Kitab ini berisi tentang pedoman bagi pelajar dan pengajar dalam proses belajar mengajar berlangsung secara baik, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Buku ini merupakan resume dari kitab Adab al-Muallim karya Syaikh Muhammad bin Sahnun (871 M) Talîm al-Muta’allim fî Tharîqâti al-Taallum karya Syaikh Burhanudin Al-Zarnuji, dan Tadzkirât al-Syaml wa al-Mutakallimîn fî Adab al-‘Âlim wa al-Muta’allim karya Syaikh Ibnu Jama’ah.

[16] Ramayulis dan Samsul Nizar, h. 337.

[17] Kitab tersebut terdiri dari delapan bab, yaitu : (1) Keutamaan ilmu dan ilmuwan serta keutamaan belajar mengajar, (2) Etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar, (3) Etika murid kepada guru, (4) Etika murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomani bersama guru, (5) Etika yang harus dipedomani seorang guru, (6) Etika guru ketika dan akan mengajar, (7) Etika guru terhadap murid-muridnya, dan (8) Etika terhadap buku, alat untuk memperoleh pelajaran, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Dari delapan bab tersebut dapat dikelompokkan dalam empat kelompok, yaitu (1) Signifikansi pendidikan, (2) Tugas dan tanggung jawab seorang murid, (3) Tugas dan tanggung jawab seorang guru, dan (4) Etika terhadap buku, alat untuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitan lainnya. Lihat Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 211-212.

[18] Hasrullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), h. 2.

[19] Langeveld, (terj.), Paedagogik Teoritis /Sistematis, (Jakarta: FIP-IKIP,1971), Fatsal 5, 5a.

[20] Carter V. Good, Dictionary Of Education, (New York: Mc. Graw Hill Book Company, Inc. 1959), h. 387.

[21]http://www.seputarpengetahuan.com/2015/02/15-pengertian- pendidikan-menurut-para.html.

[22] Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1985), h. 2.

[23] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al Ma’arif, 1987), h.19.

[24] Menurutnya, pendidikan dalam bahasa Inggris education dan dalam bahasa Latin educere, berarti memasukkan sesuatu, barangkali bermaksud memasukkan ilmu ke kepala seseorang, kalaulah ilmu itu memang masuk di kepala. Dalam bahasa Arab ada beberapa istilah yang biasa dipergunakan dalam pengertian pendidikan. Dalam masalah ini, ada tiga kata yang sering dipergunakan oleh para pakar pendidikan yaitu : talîm, tarbiyah dan tadîb. Biasa dipergunakannya kata talîm sesuai dengan firman Allah Swt.: Dan Allah mengajarkan kepada Adam segala nama, kemudia ia berkata kepada malaikat beritahulah Aku nama-nama semua itu jika kamu benar.(QS. Al-Baqarah {2} :31). Juga kata tarbiyah dipergunakan untuk pendidikan, seperti firman Allah Swt : Hai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil (QS Al-Isra’ {17} : 24). Dan kata ta’dib dipergunakan berdasarkan hadits Rasulullah Saw : Allah mendidikku, maka ia memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan. Lihat Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 273.

[25] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. ke-3. h. 38.

[26] Agus Dariyo, Dasar-dasar Pendidikan Modern, (Jakarta: PT Indeks, tt.), h. 5.

[27] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), Cet. ke-1, h. 10.

[28] Ahmadi, Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 29.

[29] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 23-24.

[30] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2015), Cet. VX, h. 36.

[31] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 188-189.

Avatar

sps.iai.al-azhaar.lubuklinggau

Sekolah Pascasarjana Institut Agama Islam Al-Azhaar merupakan Kampus pascasarjana yang berlokasi di Jl. Pelita No. 364 Kel. Pelita Jaya RT.07 Kec. Lubuklinggau Barat I Kota Lubuklinggau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top