Ilmu Pendidikan Islam BAB II

  • Version
  • Download 6
  • File Size 31.79 KB
  • File Count 1
  • Create Date Februari 13, 2020
  • Last Updated Februari 13, 2020

Ilmu Pendidikan Islam BAB II

FUNGSI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

 

Definisi Lembaga Pendidikan

Lembaga secara etimologi adalah asal sesuatu, acuan, atau sesuatu yang memberi bentuk pada yang lain, badan atau organisasi yang bertujuan mengadakan suatu penelitian keilmuan atau melakukan sesuatu usaha.

Memperhatikan pengertian di atas bisa dipahami bahwa lembaga mengandung dua arti, yaitu: (i) pengertian secara fisik, materil, kongkrit, dan (ii) pengertian secara non-fisik, non-materil, dan abstrak.[1]

Selanjutnya dalam bahasa Inggris, lembaga disebut institute (pengertian secara fisik), yaitu sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, atau lembaga dalam pengertian non-fisik atau abstrak disebut institution, yaitu suatu sistem norma untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu lembaga dalam pengertian fisik dapat disebut dengan bangunan, sedangkan lembaga dalam pengertian non-fisik disebut dengan pranata.[2]

Amir Daiem dari sudut pengertian terminologis mendefinisikan lembaga pendidikan adalah orang atau badan yang secara wajar mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan. Definisi menurut Amir Daiem ini memberikan penekanan pada sikap tanggung jawab seseorang terhadap peserta didik, sehingga dalam realisasinya merupakan suatu keharusan yang wajar bukan merupakan keterpaksaan.

Dalam definisi yang lain lembaga pendidikan dapat diartikan sebagai suatu bentuk organisasi yang tersusun relatif tetap atas pola-pola tingkah laku, peranan-peranan, relasi-relasi yang terarah dalam mengikat individu yang mempunyai otoritas formal dan sangsi hukum, guna tercapainya kebutuhan-kebutuhan sosial dasar.[3]

Menurut Daud Ali dan Habibah, ada dua unsur yang kontradiktif dalam pengertian lembaga, yaitu; (1) pengertian secara fisik, materil, kongkrit dan (2) pengertian secara non fisik, non materil dan abstrak. Dua versi pengertian tersebut dapat dimengerti karena lembaga ditinjau dari segi fisik menampakkan suatu badan dan sarana yang di dalamnya ada beberapa orang yang menggerakkannya, dan ditinjau dari aspek non fisik lembaga merupakan suatu sistem yang berperan membantu mencapai tujuan.[4]

Berdasarkan uraian definisi di atas dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan itu mengandung pengertian kongkrit berupa sarana dan prasarana dan juga pengertian yang abstrak, dengan adanya norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu, serta penananggung jawab pendidikan itu sendiri.[5]

 

Terminologi Lembaga Pendidikan Islam

Lembaga Pendidikan Islam bila diartikan secara termino-logis bermakna suatu wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan hadits, untuk tercapainya tujuan pendidikan; yaitu beriman dan bertaqwa kepada Allah, berakhlak mulia, memiliki pengetahuan dan wawasan keislaman, menjadi manusia yang cerdas, sehat, sejahtera lahir dan batin serta dapat berguna bagi agama, bangsa dan negaranya.

Lembaga pendidikan Islam bila dicermati pada aspek fungsi, termasuk masalah sosial, sehingga dalam kelembagaannya tidak terlepas dari lembaga-lembaga sosial yang ada. Lembaga pendidikan Islam juga termasuk institusi atau pranata sosial yang bentuk organisasinya tersusun relatif tepat atas pola-pola tingkah laku, peranan-peranan dan relasi-relasi yang yang terarah dalam mengikat individu yang mempunyai otoritas formal dan sangsi hukum, guna tercapainya kebutuhan-kebutuhan sosial dasar.

Secara lebih spesifik Pius Partanto dan M. Dahlan Al Barry menyatakan ”lembaga adalah badan atau yayasan yang bergerak dalam bidang penyelenggaraan pendidikan, kemasyarakatan dan sebagainya”.[6] Muhaimin lebih kongkrit mengatakan ”lembaga pendidikan Islam adalah suatu bentuk organisasi yang mempunyai pola-pola tertentu dalam memerankan fungsinya, serta mempunyai struktur tersendiri yang dapat mengikat individu yang berada dalam naungannya, sehingga lembaga ini mempunyai kekuatan hukum sendiri”.[7]

Merujuk dari beberapa pendapat di atas, pengertian lembaga pendidikan Islam dapat disimpulkan:

  • Lembaga Pendidikan Islam sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam bersama dengan proses pembudayaan serta dapat mengikat individu yang berada dalam naungannya, sehingga lembaga ini mempunyai kekuatan hukum.

  • Pendidikan Islam yang berlangsung melalui proses operasional menuju tujuannya, memerlukan sistem yang konsisten dan dapat mendukung nilai-nilai moral spiritual yang melandasinya. Nilai-nilai tersebut diaktualisasikan berdasarkan orientasi kebutuhan perkembangan fitrah siswa yang dipadu dengan pengaruh lingkungan kultural yang ada.

Tujuan Pokok Lembaga Pendidikan Islam

Didirikannya lembaga pendidikan Islam tidak lain dan tidak akan pernah lepas dari tujuan pendidikan Islam itu sendri. Oleh karenanya lembaga pendidikan Islam memberikan peran dan fungsinya sebagai wadah berlangsungnya proses pendidikan guna tercapainya tujuan yang dirumuskan bersama oleh sekelompok pengurus yang menjadi penggerak lembaga pendidikan tersebut. Karena Islam dijadikan dasar pendidikannya, maka lembaga pendidikan Islam sejatinya secara fisik menampilkan nuansa islami, dan secara sistem haruslah berbasis nilai-nilai ajaran Islam dengan sumber utama al-Qur’an dan al-Hadits.

Beberapa praktisi pendidikan, seperti Muhaimin misalnya mengatakan, ”Lembaga pendidikan Islam secara umum bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat berbangsa dan bernegara”.[8]

Tujuan didirikannya lembaga pendidikan Islam harus diniatkan mengembangkan semua potensi yang dimiliki manusia itu, mulai dari tahapan kognisi, yaitu pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran Islam, kemudian dilanjutkan dengan tahapan afeksi (kecintaan), yaitu terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya. Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan bertumbuh motivasi dalam diri siswa dan selanjutnya bergerak pada tahap psikomotorik, yaitu mengamalkan dan menaati ajaran Islam yang telah diinternalisasikan ke dalam dirinya. Dengan demikian, maka akan terbentuk manusia muslim yang bertakwa dan berakhlak mulia.[9]

 

Fungsi dan Tugas Lembaga Pendidikan Islam

Fungsi lembaga pendidikan Islam menurut An-Nahlawi antara lain :

(1) Merealisasikan pendidikan Islam yang didasarkan atas prinsip pikir, aqidah dan tasyri’ (sejarah) yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Bentuk dan realisasi itu adalah agar anak didik beribadah, mentauhidkan Allah SWT, tunduk dan patuh kepada perintah dan syariat-Nya;

(2) Memelihara fitrah anak didik sebagai insan yang mulia, agar tidak menyimpang dari tujuan Allah menciptakannya;

(3) Memberikan kepada anak didik seperangkat peradaban dan kebudayaan Islami dengan cara mengintengrasikan antara ilmu-ilmu alam, ilmu sosial, ilmu eksak, dengan landasan ilmu-ilmu agama, sehingga anak didik mampu melibatkan dirinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;

(4) Membersihkan pikiran dan jiwa anak didik dari pengaruh subyektivitas (emosi) karena pengaruh zaman yang terjadi pada dewasa ini lebih mengarahkan pada penyimpangan fitrah manusia;

(5) Memberikan wawasan nilai dan moral, dan peradaban manusia yang membawa khasanah pemikiran anak didik menjadi berkembang;

(6) Menciptakan suasana kesatuan dan kesamaan antara anak didik;

(7) Bertugas mengkoordinasi dan membebani kegiatan pendidikan;

(8) Menyempurnakan tugas-tugas lembaga pendidikan keluarga, masjid dan pesantren.

Lembaga pendidikan Islam menurut An-Nahlawi merupa-kan lembaga pendidikan kedua setelah keluarga. Intinya, fungsi lembaga pendidikan Islam sebagai wadah untuk memberikan pengarahan, bimbingan dan pelatihan agar manusia dengan segala potensi yang dimilikinya dan dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

Tugas lembaga pendidikan Islam yang terpenting adalah dapat mengantarkan manusia kepada misi penciptaannya sebagai hamba Allah sebagai khalîfah fi al-ardhi, yaitu seorang hamba yang mampu beribadah dengan baik dan dapat mengembangkan amanah untuk menjaga dan untuk mengelola dan melestarikan bumi dengan mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh alam.

 

Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara

Pada zaman awal dakwah Islam lembaga pendidikan Islam berlangsung di rumah sahabat Arqam bin Abu Arqam dalam bentuk halaqah, sehingga rumah itu disebut “dâr al-arqâm”.[10] Ketika Rasulullah Saw. berada di Madinah muncul lembaga pendidikan yang disebut suffah dan peserta didiknya disebut ahl al-suffah[11] (teras masjid) untuk para sahabat yang menetap di masjid atau sekitar masjid. Perkembangan selanjutnya pada masa Bani Umayyah mulai muncul kuttâb yang kemudian disusul munculnya madrasah.[12]

Di Indonesia lembaga pendidikan Islam muncul bersamaan dengan masuknya agama Islam dengan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan budaya dan tradisi masyarakatnya. Di Sumatera Barat pendidikan Islam dikenal dengan surau,[13] di Jawa berkembang pesat pesantren,[14] didukung oleh aktivitas langgar dan mushalla,[15] di Aceh lahir meunasah[16], dayah[17] dan rangkang[18] dengan sistem pendidikan tradisional. Jika ditelisik lebih jauh pasti akan ditemukan nama-nama lain di seluruh nusantara ini akibat sangat kayanya Indonesia dengan tradisi dan budaya. Namun beberapa nama tersebut di atas adalah nama-nama yang selalu digunakan para pakar dalam menyebut lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

Semua lembaga pendidikan Islam di atas, menurut Sidi Gazalba, ada tiga lembaga pendidikan utama yang berkewajiban melaksanakan pendidikan Islam yaitu:[19]

(1) rumah tangga, yaitu pendidikan primer untuk fase bayi dan fase kanak-kanak sampai usia sekolah. Pendidiknya adalah orangtua, sanak kerabat, famili, saudara-saudara, teman sepermainan, dan kenalan pergaulan,

(2) sekolah, yaitu pendidik sekunder yang mendidik anak mulai dari usia masuk sekolah sampai ia keluar dari sekolah tersebut. Pendidiknya adalah guru yang profesional,

(3) masyarakat, yaitu pendidikan primer yang merupakan pendidikan terakhir tetapi bersifat permanen. Pendidiknya adalah kebudayaan, adat istiadat, dan suasana masyarakat setempat.

 

[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Cet ke-9, h. 277.

[2] Ibid.

[3] Ibid., h. 278.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Pius Partanto, M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), h. 406.

[7] Muhaimin, Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), h. 231.

[8] Muhaimin, h. 127

[9] Ibid.

[10] Di rumah Arqam, Nabi mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam kepada para sahabat, dan di sini pula Nabi menerima tamu yang ingin bertanya tentang ajaran Islam atau orang-orang yang mau masuk Islam. Lihat Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 323.

[11] Sekumpulan lelaki dari kalangan Sahabat Rasulullah Saw., yang tinggal di sudut dalam Masjid Madinah. Sudut suffah di masa ini dibuat lebih tinggi dari tempat lain, terletak antara Pintu Jibril dan Pintu An-Nisâ’. Mereka antara lain adalah Abu Hurairah, Abu Dzarr al-Ghifari, Abu Said al-Khudri, Ka'ab al-Harith, Salman al-Farisi, Abu Barzah al-Aslami, Suhaib San’am, Ammar bin Yaser, Abdullah bin Mas’ud, Sa'ad bin Abi Waqqas, Uqbah bin Amir, Wabisah bin Ma’bad al-Juhani dan Tamin ad-Dari.

[12] Madrasah berasal dari bahasa Arab yang artinya tempat belajar atau sistem pendidikan klasikal yang di dalamnya berlangsung proses belajar mengajar dengan materi-materi kajian yang terdiri dari ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Lihat Abu Hamid, Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan Taufiah Abdullah ed. Agama dan Perubahan Sosial (Jakarta: Rajawali, 1983), h. 328. Lihat juga Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, (Bandung: Mizan, 1998), h. 15, dan lihat juga Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos Wacana, 1999), h. 151.

[13] Surau adalah bangunan kecil tempat shalat yang dipergunakan sebagai tempat mengaji Al-Quran bagi anak-anak dan tempat belajar agama bagi orang dewasa. Kata surau berasal dari istilah Melayu Indonesia dan penggunaannya meluas di Asia Tenggara. Pengertian surau ini dalam penggunaannya hampir sama dengan istilah langgar atau mushala. Lihat Hasbullah, Sejarah pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), h. 147.

[14] Secara bahasa pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe- dan akhiran -an yang berarti tempat tinggal santri. Kata santri sendiri, menurut C.C Berg berasal dari bahasa India, shastri, yaitu orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Sementara itu, A.H. John menyebutkan bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Nurcholish Madjid juga memiliki pendapat berbeda. Dalam pandangannya asal usul kata “santri” dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “santri” berasal dari kata “shastri”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya melek huruf. Pendapat ini menurut Nurcholish berdasarkan atas kaum santri kelas literari bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa kata santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, dari kata “cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap. Lihat Babun Suharto, Dari Pesantren Untuk Umat: Reiventing Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi, (Surabaya: Imtiyaz, 2011), Cet. ke-1, h. 9. Lihat juga Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), Cet. ke-2, h. 61.

[15] Langgar adalah masjid kecil tempat mengaji dan shalat, namun tidak digunakan untuk salat Jumat; surau; mushalla. Sumber; https://id.wiktionary.org/wiki/langgar.

[16] Secara etimologi meunasah berasal dari perkataan madrasah, yaitu tempat belajar, atau sekolah. Bagi masyarakat Aceh meunasah tidak semata-mata sebagai tempat belajar akan tetapi memiliki multi fungsi, disamping sebagai tempat belajar juga digunakan sebagai tempat ibadah (shalat), tempat pertemuan, musyawarah, pusat imformasi, tempat tidur bagi pemuda, tempat menginap bagi musafir dan sebagai tempat kegiatan adminsitarsi pemerintahan kampung. Lihat, Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta, Predana Media Graup, 2007), h. 23., lihat juga; Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Cipta Pustaka Media, 2001), h. 25.

[17] Dayah adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang sudah sangat mengakar sejak Islam bertapak di Aceh pada abad pertama Hijriyah. Dimulai dari pendirian Dayah Cot Kala Langsa, kemudian lembaga dayah menyebar ke berbagai penjuru daerah bahkan sampai ke Nusantara, Malasia dan Thailand. Lihat M. Hasbi Amiruddin, Ulama Dayah, Pengawal Agama Masyarakat Aceh, (Lhokseumawe: Nadia Pondantion, 2003), h. 33. Istilah dayah  secara literal bermakna sudut, masyarakat Aceh meyakini sebagai zawiyah atau sudut masjid Madinah yang biasa digunakan nabi Muhammad Saw. berdakwah pada masa Islam. Pada abad pertengahan, kata zawiyah dipahami sebagai pusat agama dan kehidupan mistik dari penganut tasawuf, kerena itu, hanya didominasi oleh ulama perantau, yang telah dibawa ke tengah-tengah masyarakat. Kadang-kadang lembaga dibangun menjadi sekolah agama dan pada saat tertentu zawiyah juga dijadikan sebagai pondok bagi pencari kehidupan spiritual. Dhus, sangat mungkin bahwa disebarkan ajaran Islam di Aceh oleh para pendakwah tradisional Arab dan Sufi; di samping itu, nama lain dari dayah adalah rangkang. Perbedaannya eksistensi, dan peran rangkang dalam kancah pembelajaran lebih kecil dibandingkan dengan dayah.

[18] Rangkang adalah bangunan rumah panggung berukuran kecil yang digunakan sebagai tempat belajar sekaligus sebagai tempat tidur bagi murid. Snaouch Hogronye, sebagaimana dikutip oleh Haidar, mendeskripsikan rangkang dalam bentuk rumah kediaman, tetapi lebih sederhana memiliki satu lantai saja di kanan dan kiri gang pemisah (blok) dengan masing-masing kamar untuk 1-3 murid, terkadang rumah yang tidak dipakai lagi oleh orang saleh diwakafkan kepada murid. Rumah tersebut diserahkan kepada guru untuk dijadikan rangkang. Lihat Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Predana Media Graup, 2007), h. 23.

[19] Ibid., h.150

Posted in
Avatar

sps.iai.al-azhaar.lubuklinggau

Sekolah Pascasarjana Institut Agama Islam Al-Azhaar merupakan Kampus pascasarjana yang berlokasi di Jl. Pelita No. 364 Kel. Pelita Jaya RT.07 Kec. Lubuklinggau Barat I Kota Lubuklinggau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top