Ilmu Pendidikan Islam BAB III

  • Version
  • Download 5
  • File Size 4.00 KB
  • File Count 1
  • Create Date Februari 13, 2020
  • Last Updated Februari 13, 2020

Ilmu Pendidikan Islam BAB III

PERAN GURU DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

 

Sistem Menurut Para Ahli

Kata sistem berasal dari bahasa Yunani, yaitu “systema” yang berarti “cara, atau strategi”. Dalam bahasa Inggris berarti “sistem, susunan, jaringan, cara”. Jadi "sistem" secara sederhana diartikan “sebagai suatu strategi, cara berpikir dan atau model berpikir”.[1] Definisi secara tradisional, sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.[2] Sedangkan pengertian modernnya dikemukakan oleh para pakar, yaitu Roger A. Kaufman mengatakan sistem adalah suatu totalitas yang tersusun dari bagian-bagian yang bekerja secara sendiri-sendiri (independen) atau bekerja bersama-sama untuk mencapai hasil atau tujuan yang yang diinginkan berdasarkan kebutuhan.[3]

Mc Ashan mendefinikan sistem sebagai suatu strategi yang menyeluruh atau rencana diskomposisi oleh satu set elemen yang harmonis, merepresentasikan kesatuan unit, masing- masing elemen yang mempunyai tujuan tersendiri yang kesemuanya memiliki keterkaitan terurut dalam bentuk yang logis.[4]

Immegart mendefinisikan sistem sebagai suatu keseluruhan yang memiliki bagian-bagian yang tersusun secara sistematis. Bagian-bagian itu terelasi antara satu dengan yang lain serta peduli terhadap konteks lingkungannya.[5]

 

Guru Dalam Perspektif Islam

Guru, atau juga yang disebut “pendidik” secara bahasa (lughatan) di dalam al-Qur’an banyak ditemukan kata-kata yang menunjuk pada pengertian itu. Di antaranya adalah (1) Mu’allim, (2) Murabbi, (3) Mudarris, (4) Mursyid, (5) Muzakki, dan (6) Mukhlis.[6] Keenam kata yang disebut dalam al-Qur’an itu merupakan padanan kata yang menunjuk pada pengertian pendidik. Di Indonesia pendidik atau guru dipersepsikan sebagai orang yang patut digugu dan ditiru.[7] Namun demikian Hadari Nawawi memberikan definisi guru sebagai orang-orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau di kelas. Lebih spesifik lagi guru diartikan sebagai orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dan ikut bertanggung jawab dalam membimbing dan membentuk anak didik mencapai kedewasaan, baik dewasa secara jasmani maupun rohani.[8]

Konsep Ibnu Sina tentang guru yang ideal adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main di hadapan muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, dan suci murni.[9] Menurutnya tugas seorang guru dalam mendidik tidaklah mudah. Sebab, pada hakikatnya tugas pendidikan yang utama adalah membentuk perkembangan anak dan membiasakan kebiasaan yang baik dan sifat-sifat yang baik menjadi factor utama guna mencapai kebahagiaan anak. Oleh karena itu, orang yang ditiru hendaklah menjadi pemimpin yang baik, contoh yang bagus dan berakhlak hingga tidak meningalkan kesan buruk dalam jiwa anak yang menirunya. Sedangkan Al-Ghazali menempatkan guru sebagai profesi yang paling mulia dan agung. Karena dengan profesinya itu, seorang guru menjadi perantara antara manusia (dalam hal itu murid) dan penciptanya, Allah Swt. Dalam kitabnya yang masyhur “Ihyâ’ Ulûm ad-Dîn” ia mengilustrasikan posisi seorang guru;[10]

“Seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dalam ilmunya itu, maka dialah yang dinamakan besar di bawah kolong langit ini. Ia adalah ibarat matahari yang menyinari orang lain dan mencahayai pula dirinya sendiri dan ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain dan ia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, maka sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan sangat penting. Maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugas ini”.

Al-Ghazali memberikan beberapa syarat bagi seorang guru;

(1) guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sendiri,

(2) guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagaimana tujuan utama dari pekerjaannya (mengajar) karena mengajar adalah tugas yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw., sedangkan upahnya adalah terletak pada terbentuknya anak didik yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya,

(3) guru harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah,

(4) guru harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawanya pada kebahagian di dunia dan di akhirat,

(5) guru harus memberikan contoh yang baik di hadapan muridnya, seperti berjiwa halus, sopan, lapang dada, murah hati, dan berakhlak terpuji lainnya,

(6) guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan tingkat intelektual dan daya tangkap anak didiknya,

(7) guru harus mengamalkan yang diajarkannya, karena menjadi idola di mata anak muridnya,

(8) guru harus memahami minat, bakat, dan jiwa anak didiknya, sehingga di samping tidak salah dalam mendidik, juga akan terjadi hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya,

(9) guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu.[11]

Dalam konsep Ibnu Khaldun, seorang pendidik atau guru akan berhasil dalam tugasnya apabila memilki sifat-sifat yang mendukung profesinalismenya.[12]

Pertama, pendidik hendaknya bersikap lemah lembut, menjauhi sifat kasar, dan menghindari hukuman yang merusak fisik dan psikis peserta didik, apalagi terhadap anak-anak yang masih kecil. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan kebiasaan yang buruk bagi mereka; seperti pemalas, berdusta dan tidak jujur atau pura-pura menyatakan apa yang tidak terdapat di dalam pikirannya. Sikap demikian dapat terjadi disebabkan perasaan takut disakiti dengan perlakuan yang kasar itu, terutama jika mereka berkata yang sebenarnya. Bahkan bisa mendorong mereka bersifat makar dan muslihat.

Kedua, pendidik hendaknya menjadikan dirinya sebagai uswah al-hasanah (teladan) bagi peserta didik. Keteladanan di sini dipandang sebagai suatu cara yang ampuh untuk membina akhlak dan menanamkan prinsip-prinsip terpuji kepada jiwa peserta didik. Menurutnya, peserta didik adakalanya memperoleh ilmu pengetahuan, ide, akhlak, sifat-sifat terpuji dan pendidikan dengan meniru atau melakukan kontak pribadi dengan lingku-ngannya, khusunya kepribadian para pendidik.

Ketiga, pendidik hendaknya memerhatikan kondisi peserta didik dalam memberikan pengajaran sehingga metode dan materi dapat disesuaikan secara proporional.

Keempat, pendidik hendaknya mengisi waktu luang dengan aktivitas yang berguna. Dan cara yang paling baik untuk mengisi waktu yang senggang adalah dengan membiasakan anak membaca, terutama membaca al-Qur'an, sejarah, syair-syair, hadits Nabi, bahasa Arab dan retorika.

Kelima, pendidik harus professional dan mempunyai wawasan yang luas tentang peserta didik, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya, serta kesiapan untuk menerima pelajaran. Di antara sifat yang terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pendidik ialah kemampuan mengungkapkan diri dengan kelas dalam dialog dan diskusi, serta mencoba menyampaikan kemampuan ilmiah kepada peserta didik yang dianggap sebagai suatu keahlian dalam pelajaran.[13]

 

Peran Utama Pendidik

1)   Waratsh al-anbiyâ’ Pada hakekatnya para pendidik berfungsi sebagai “waratsah al-anbiyâ’’” sebagaimana hadits Nabi Saw.:[14]

العلماء ورثة الأنبياء

“Ulama itu pewaris para Nabi”

Sebagai pewaris para Nabi, tugas dan fungsi pendidik sungguh sangat mulia. Ia mengeban misi “rahmatan lil ‘alamin”. Yaitu suatu misi dimana pendidik mengajak untuk patuh dan tunduk kepada hukum-hukum Allah guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Selanjutnya misi dikembangkan kepada pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif beramal saleh dan bermoral tinggi.

Abdurahman al-Nahlawi menyebutkan tugas pendidik sebagai berikut; pertama, fungsi penyucian, yakni ber-fungsi sebagai pembersih, pemelihara dan pengembang fitrah manusia. Kedua fungsi pengajaran, yakni menginter-nalisasikan dan mentransformasikan pengetahuan dan nilai-nilai agama kepada manusia.[15]

Di samping itu tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Allah.

2)   Pengajar. Guru sebagai pengajar ia bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun dan memberikan penilaian setelah program itu dilaksanakan.

3)   Pendidik. Sebagai edukator, pendidik mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian islami, sesuai dengan tujuan Allah menciptakan manusia.

4)   Pemimpin. Dalam fungsinya sebagai pemimpin, pendidik memimpin dan mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi atas program yang dilakukan itu.

 

Tanggung Jawab Pendidik

Sebagaimana melihat paparan di atas, dimana guru memiliki tugas yang demikian kompleks dan sangat mulia berkaitan dengan penyiapan anak bangsa yang beriman dan bertaqwa, yang memiliki kecerdasan intelektual dan spritual, yang berakhlak karimah, yang memiliki ketarampilan yang dibutuhkan dalam kehidupannya, yang berguna bagi agama, bangsa dan negaranya.

Merujuk pernyataan Abd al-Rahman al-Nahlawi bahwa pendidik adalah mendidik individu supaya beriman kepada Allah dan melaksanakan syariatnya, mendidik diri supaya beramal saleh dan mendidik masyarakat untuk saling menasehati dalam melaksanakan kebenaran, saling menasehati agar tabah dalam menghadapi kesusahan beribadah kepada Allah serta menegakkan kebenaran.

Tanggung jawab pendidik tidak sekedar terbatas pada hal-hal yang disebutkan di atas, tapi tanggung jawab yang lebih besar sesungguhnya adalah tanggung jawab kepada Allah Swt. Sebagaimana hadits Nabi ;[16]

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Bahwasanya 'Abdullah bin 'Umar berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut." Aku menduga Ibnu 'Umar menyebutkan: "Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya”.

 

Hak Pendidik

Tugas mendidik adalah tugas profesional. Karenanya pendidik berkewajiban mencurahkan seluruh perhatian-nya dalam membina, membimbing, mendidik dan mengarahkan peserta didik untuk menjadi manusia yang mulia sebagaimana tujuan pendidikan. Dengan demikian seorang pendidik mencurahkan segala perhatian dan waktunya, dengan mengurangi perhatian dan waktu untuk keluarganya, dan bahkan meninggalkan tugas-tugas mencari nafkah untuk keluarganya.

Memperhatikan tugas dan tanggung jawab pendidik demikian besar, maka sepantasnya pendidik mendapat-kan haknya sebagai imbalan atau penghargaan dari pe-ngorbanan waktu yang diberikan. Beberapa hak pendidik di antaranya adalah gaji dan penghargaan.

Terkait dengan pemberian gaji kepada pendidik para ulama dan para filosof awalnya berselisih pendapat, antara menerima atau menolaknya. Seorang filosof yang paling terkenal menolak gaji adalah Socrates,[17] kemudian diikuti oleh filosof Muslim yaitu Imam Al-Ghazali yang justru mengharamkan gaji.[18] Sedangkan al-Qabisi mempunyai pendapat yang berbeda. Ia melihat bahwa setiap pendidik boleh mendapatkan gaji. Alasan al-Qabisi guru boleh menerima gaji karena pendidik telah menjadi jabatan profesi, karenanya maka pendidik berhak mendapatkan kesejahteraan dalam kehidupan ekonominya.[19]

Disamping hak untuk mendapatkan gaji, seorang pendidik juga berhak mendapatkan penghargaan dalam berbagai bentuknya. Apakah penghormatan itu dalam bentuk sikap, apakah dengan cara memberikan hadiah, atau apakah dengan menempatkan pendidik secara terhormat pada maqam yang mulia di tengah-tengah masyarakat. Karena guru itu adalah orang tua ideologis. Pendidik itu adalah orang yang melahirkan peserta didik beradab dan berkeadaban.

Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengemukakan;[20]

“Menghormati guru berarti penghormatan terhadap anak-anak kita. Bangsa yang ingin maju peradabannya adalah bangsa yang mampu memberikan penghargaan kepada para pendidik. Inilah salah satu keberhasilan bangsa Jepang yang mengutamakan dan memprioritaskan guru. Setelah hancurnya Hiroshima dan Nagasaki, pertama kali yang dicari Kaisar Hirohito adalah para guru. Dalam waktu yang relatif singkat bangsa Jepang bangkit kembali dari kehancurannya sehingga menjadi negara modern pada masa sekarang, berkat guru”.

 

Kode Etik Pendidik/Guru

Kode etik guru telah dirancang sedemikian rupa oleh negara melalui Undang-Undang Nomor 8 tahun 1974 tentang pokok-pokok pedoman kepegawaian. Kode etik menurut undang-undang itu berupa norma-norma, sikap dan tingkah laku yang melekat pada pendidik, baik pada saat berdinas atau di luar kedinasan.[21]

Namun demikian, oleh karena penulisan ini sedang membahas pendidikan Islam, maka penulis akan mengutip kode etik pendidik yang dikemukakan oleh pakar pendidikan Islam yang sangat masyhur, al-Kanani.[22]

Menurutnya, ada tiga macam syarat menjadi seorang pendidik, yaitu; (1) berkenaan dengan dirinya sendiri, (2) berkenaan dengan pelajaran dan (3) berkenaan dengan muridnya.

Pertama, syarat-syarat yang berkenaan dengan dirinya adalah;[23] (1) guru selalu insyaf akan pengawasan Allah, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Ia memegang amanat ilahiah yang diberikan Allah padanya, (2) memelihara kemuliaan ilmu, (3) bersifat zuhud, (4) tidak berorientasi duniawi, (5) menghindari mata pencaharian yang hina, (6) memelihara syi’ar-syi’ar Islam, seperti memelihara shalat berjamaah di masjid, mengucapkan salam serta menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, (7) rajin mengerjakan hal-hal yang disunnahkan oleh agama, baik membaca al-Qur’an, berdzikir dan shalat malam, (8) memelihara akhlak mulia dalam pergaulan sehari-hari, (9) mengisi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat, (10) tidak malu belajar kepada orang yang lebih rendah darinya, dan (11) rajin meneliti, menyusun dan mengarang dengan memperhatikan keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan.

Kedua, syarat yang berhubungan dengan pelajaran antara lain;[24] (1) berwudhu dan bersuci dari kotoran terhadap pakaian yang dikenakan, (2) berdoa ketika keluar rumah, (3) mengambil posisi duduk yang dapat terlihat oleh peserta didik, (4) membaca sebagian ayat al-Qur’an sebelum memulai mengajar, (5) mengutaman pelajaran sesuai hirarki ilmu dalam Islam yaitu al-Qur’an, hadits, usuluddin, usul fiqh dan seterusnya, dan bagi pengajar umum hendaknya penyampaian materi berdasarkan al-Qur’an dan hadits, (6) mengatur volume suaranya, (7) menjaga ketertiban majelis dengan mengarahkan pada pembahasan tertentu, (8) menegur peserta didik yang tidak menjaga sopan santun, (9) bersikap bijak dalam melakukan pembahasan, (10) bersikap bijak kepada murid baru, (11) menutup setiap akhir pengajaran dengan mengatakan “wallahu a’lam bis shawab” dan (12) tidak mengasuh bidang studi yang tidak dikuasainya.

Ketiga, syarat-syarat yang berhubungan dengan murid, yaitu;[25] (1) berniat mengajar karena Allah, (2) tidak menolak mengajar murid yang tidak tulus dalam belajar, (3) mencintai muridnya seperti mencintai dirinya sendiri, (4) memotivasi muridnya untuk mempelajari ilmu seluas mungkin, (5) mengajar dengan menggunakan bahasa yang mudah difahami, (6) melakukan evaluasi terhadap pelajaran yang telah diajarkan, (7) bersikap adil kepada semua muridnya, (8) membantu memenuhi kemashlahatan muridnya, dan (9) memantau perkembangan muridnya, baik intelektual maupun akhlaknya.

 

Kompetensi Pendidik/Guru[26]

Kompetensi guru sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan Ramayulis digambarkan sebagai berikut:[27]

(1) Kewibawaan, adalah kualitas daya pribadi yang membuat orang lain tertarik, bersikap mempercayai, menghormati secara sadar dan suka cita dan mengikutinya,

(2) Kompetensi keguruan, adalah kompetensi kompetensi yang meliputi kepribadian (personality), kompetensi pedagogik (kemampuan mengajar), kompetensi sosial (mampu membangun relasi dan bermasyarakat) dan profesionalitas,

(3) Kompetensi penguasaan bahasa, adalah kemampuan seorang pendidik menggunakan bahasa, baik bahasa Indonesia, terutama bila memiliki kelebihan bahasa Arab dan Inggris,

(4) Kompetensi bidang teknologi, adalah kemampuan pendidik dalam penguasaan teknologi dalam pembelajaran, dan;

(5) Kompetensi Internalisasi Nilai, adalah kemampuan pendidik membangun dan menginternalisasi nilai-nilai yang ada dalam al-Qur’an dan Hadits.

 

[1] Made Pidarta, Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), Cet. ke-13, h. 26.

[2] Omar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2002), Cet. ke-1, h. 1.

[3] Roger A. Kaufman, Educational System Planning (Engliwood Clifs,NM) : Prentice-Hall,ICN,1972), h.1.

[4] MC Ashan dalam Made Pidarta, h. 25-26.

[5] Immegart, dalam ibid.

[6] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Cet ke-9, h. 102-103; Mu’allim adalah orang yang menguasi ilmu, mampu mengembangkannya dan menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, serta menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya sekaligus. Murabbi adalah pendidik yang mampu menyiapkan, mengatur, mengelola, membina, memimpin, membimbing dan mengembangkan potensi kreatif peserta didik, yang dapat digunakan bagi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berguna bagi dirinya dan makhluk Tuhan di sekitarnya. Mudarris adalah pendidik yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dialogis dan dinamis, mampu membelajarkan peserta didik dengan beajar mandiri, atau memperlancar pengalaman belajar dan menghasilkan warga belajar. Mursyid adalah pendidik yang menjadi sentral figur (al-uswah al-hasanah) bagi peserta didiknya, memiliki wibawa yang tinggi di depan peserta didiknya, mengamalkan ilmu secara konsisten, bertaqarrub kepada Allah, merasakan kelezatan dan manisnya iman terhadap Allah Swt. Muzakki adalah pendidik yang bersifat hati-hati terhadap apa yang akan diperbuat, senantiasa mensucikan hatinya dengan cara menjauhi semua bentuk sifat-sifat mazmûmah dan mengamalkan sifat-sifat mahmûdah. Karenanya pendidik bertugas menjaga potensi suci peserta didiknya serta berusaha memberikan terapi dan metode kepada peserta didiknya melalui konsep-konsep tazkiyat al-nafs, tazkiyat al-aql dan tazkiyat al-jism. Mukhlis adalah pendidik yang melaksanakan tugasnya dalam mendidik dan mengutamakan motivasi ibadah yang benar-benar ikhlas karena Allah.

[7] Ibid., h.105.

[8] Ibid.

[9] Lebih lanjut, Ibnu Sina menambahkan bahwa seorang guru itu sebaiknya dari kaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam membimbing anak-anak, adil, hemat, dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak, dan lain-lain. Lihat Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 81. Lihat juga Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 84

[10] Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum ad-Din (tt), h. 52. Al-Ghazali agaknya melihat guru dalam perspektif profesi, yang ditekankan pada aspek moral dan kepribadian. Sedangkan aspek keahlian profesi, dan penguasaan terhadap materi yang diajarkan serta metode yang harus dikuasainya tampaknya kurang diperhatikan. Hal ini dapat dimengerti, karena paradigma (cara pandang) yang digunakan Al-Ghazali adalah paradigma tasawuf yang menempatkan guru sebagai figur sentral idola, bahkan mempunyai kekuatan spiritual, di mana sang murid sangat bergantung kepadanya. Dengan posisi seperti ini guru memegang peranan penting dalam pendidikan.

[11] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Wacana Ilmu, 1997), h. 163-164. Lihat juga Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 93-94.

[12] Ibnu Khaldun, Jilid I, t.th.:1253.

[13] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, h. 107-108.

[14] HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Beirut: Dar Fikr,tt), Juz I, h. 98.

[15] Abdurrahman al-Nahlawi, Lingkungan Pendidikan Islam, Tumah, Sekolah dan Masyarakat, (Beirut, Libanon: Dar al-Fikr al-Mansyur,1983), Cet. I, h. 11.

[16] HR. Bukhari, Kitab Shahih Bukhari, No. 2546

[17] Musthafa Sa’i al-Khin, dkk, Mazhab al-Muttaqin Syarh Riadh al-Shalihin, (Beirut: Muasasah al-Risalah,1972), h. 298.

[18] A. Piet Sahertian, Profil Pendidik Profesional, (Andi Ofset,1994), h. 20.

[19] A. Bustami, A. Gani, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, terj, (Jakarta: Bulan Bintang), h.130-131.

[20] Al-Abrasyi dalam Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2015), cet. ke-12, h.114.

[21] Depdikbud, Pedoman Kerja SPG Sub Proyek Persiapan Rencana Pembinaan Guru SPG, Proyek Rehabilitasi Pendidikan Guru Depdikbud, Jakarta, 1969/1970.

[22] Badruddin Ibn Jama’ah al-Kanani, Tazkirah al-Sam’i wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Muta’allim, (Beirut: Dar al-Kutub, 1978), h. 1019.

[23] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 117-118.

[24] Ramayulis, h. 120-121.

[25] Ramayulis, h. 122-123.

[26] Ramayulis, h.128.

[27] Ramayulis, Komposisi Kurikulum Sebagai Jawaban Terhadap Pemenuhan Kualitas Profesional Guru. Makalah disampaikan pada workshop Evaluasi Kurikulum PPs. IAIN Imam Bonjol, Padang tanggal 7-8 Juli, 2010, h.10.

 

Posted in
Avatar

sps.iai.al-azhaar.lubuklinggau

Sekolah Pascasarjana Institut Agama Islam Al-Azhaar merupakan Kampus pascasarjana yang berlokasi di Jl. Pelita No. 364 Kel. Pelita Jaya RT.07 Kec. Lubuklinggau Barat I Kota Lubuklinggau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top