Ilmu Pendidikan Islam BAB IV

  • Version
  • Download 4
  • File Size 22.11 KB
  • File Count 1
  • Create Date Februari 13, 2020
  • Last Updated Februari 13, 2020

Ilmu Pendidikan Islam BAB IV

POTENSI PESERTA DIDIK

 

Defenisi Peserta Didik

Peserta didik bila didefinisikan secara formal adalah orang yang sedang dalam fase pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik maupun psikis. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut merupakan ciri dari seorang peserta didik yang memerlukan bimbingan dan pembinaan dan seorang pendidik. Pertumbuhan itu menyangkut fisik dan perkembangan itu menyangkut psikis.[1]

Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, pasal 1 menyebutkan; “peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu".[2]

Praktisi pendidikan mendeskripsikan peserta didik pada enam kriteria, yaitu :[3]

(1) peserta didik bukanlah orang dewasa yang memiliki dunianya sendiri,

(2) peserta didik memiliki priodisasi pertumbuhan dan perkembangan,

(3) peserta didik adalah makhluk Allah Swt. yang memiliki perbedaan individu, baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada,

(4) peserta didik merupakan dua unsur utama; jasmani dan rohani. Unsur jasmani memiliki daya fisik dan insur rohani memiliki daya akal, hati nurani dan nafsu,

(5) peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.[4]

Dalam proses pendidikan peserta didik, di samping sebagai obyek ia juga sebagai subyek. Agar proses pendidikan berjalan dengan baik dan berhasil mencapai tujuan yang diinginkan, maka pendidik harus mengenali peserta didiknya antara lain; (i) kebutuhannya, (ii) dimensi-dimensinya, (iii) intelegensinya, dan (iv) kepribadiannya.[5]

 

Kebutuhan Peserta Didik

Peserta dididik memiliki kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan agar proses pendidikan berjalan dengan baik. Tentunya kebutuhan-kebutuhan itu selain disiapkan oleh pendidik itu sendiri, sebagiannya lagi disiapkan oleh orang tua. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi;

(1) Kebutuhan fisik,

(2) kebutuhan sosial,

(3) kebutuhan mendapat status,

(4) kebutuhan mandiri,

(5) kebutuhan berprestasi,

(6) kebutuhan ingin disayangi dan dicintai,

(7) kebutuhan untuk curhat,

(8) kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup, dan

(9) kebutuhan untuk beragama.

Beberapa kebutuhan di atas secara sinergis harus disiapkan oleh pendidik bekerjasama dengan orang tua dan lingkungan peserta didik. Hal ini mengacu pada pandangan bahwa pendidikan dibentuk oleh tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

 

Dimensi-Dimensi Peserta Didik

Widodo Supriyono menyatakan, “manusia merupakan makhluk multi dimensional yang berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Secara garis besar manusia terbagi menjadi dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan psikis. Pada dimensi fisik manusia ada persamaan dengan binatang. Tetapi pada dimensi psikis manusia berbeda dengan binatang, meliputi akal pikiran, hati nurani dan spritualitas; keinginan untuk mencari kebenaran dan adanya Tuhan.[6]

Zakiyah Derajat membagi manusia kepada tujuh dimensi pokok yang masing-masing dimensi itu dapat dibagi pada dimensi-dimensi kecil. Ketujuh dimensi itu adalah akal, agama, akhlak, kejiwaan, rasa, keindahan dan sosial kemasyarakatan. Semua dimensi itu harus ditumbuh kembangkan melalui pendidikan Islam.[7]

Beberapa bentuk pendidikan yang harus dilakukan untuk menumbuh kembangkan dimensi-dimensi itu antara lain; (1) dimensi fisik (jasmani), (2) dimensi akal, (3) dimensi keber-agamaan, (4) dimensi akhlak, (5) dimensi rohani (kejiwaan), (6) dimensi seni (keindahan), dan (7) dimensi sosial.

 

Intelegensi Peserta Didik

Intelegensi (kecerdasan) yang dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan dalam bahasa Arab disebut al-dzakâ’ adalah kecepatan pemahaman terhadap sesuatu. Atau dalam arti al-qudrah dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna.

Crow and Crow mengemukakan bahwa inteligensi berarti kapasitas umum dari seorang individu yang dapat dilihat dari kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan rohaniyah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problem-problem dan kondisi-kondisi yang baru di dalam kehidupan. Pengertian ini tidak hanya menyangkut akademik, tetapi lebih luas menyangkut kehidupan non akademik, seperti masalah-masalah artistik dan tingkah laku sosial.[8]

Beberapa kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik yaitu ; (i) kecerdasan intelektual, (ii) kecerdasan emosional, (iii) kecerdasan spritual, dan (iv) kecerdasan qalbiyah.[9] Adalah kewajiban pendidik dengan segala kapabilitasnya menumbuh kembangkan kecerdasan peserta didik dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya untuk menemukan dirinya sebagai insan kamil, sebagaimana isyarat Allah bahwa manusia diciptakan “fi ahsani taqwîm”.

 

Kepribadian Peserta Didik

Setiap peserta didik memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Melalui kepribadian yang berbeda-beda Allah menunjukkan kesempurnaan-Nya. Maka sejatinya perbedaan kepribadian bagi seorang pendidik bukan merupakan kendala, tetapi justru menjadi rahmat dan anugerah yang harus disyukuri. Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai berikut ;[10]

Allport mendefinisikan kepribadian sebagai susunan yang dinamis di dalam sistem psiko-fisik (jasmani-rohani) seorang individu, yang menentukan perilaku dan pikirannya yang berciri khusus. Sedangkan W. Stern mengatakan bahwa kepribadian adalah suatu kesatuan banyak (Unita Multi Kompleks) yang diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu.

Sementara Hartmann mendefinisikan kepribadian berupa, “susunan yang terintegrasikan dalam corak khas yang tegas yang diperhatikan kepada orang lain.

Kepribadian seorang muslim secara garis besar dibagi dua, yaitu kepribadian kemanusiaan (basyariyah) yang meliputi kepribadian individu dan kepribadian ummah, sedangkan kepribadian kewahyuan (samawî) adalah kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci al-Qur’an.[11]

 

Etika Peserta Didik

Peserta didik haruslah memiliki etika dalam mengikuti proses pembelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut al-Ghazali terdapat sebelas kewajiban peserta didik, yaitu :

(1)  belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah Swt,

(2)  mengurangi kecenderungan duniawi ketimbang ukhrawi,

(3)  bersikap tawadhu’ (rendah hati,

(4)  menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran,

(6)  belajar secara bertahap dari yang mudah ke yang sulit,

(7)  belajar sampai tuntas baru pindah pada ilmu yang lain,

(8)  mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu yang dipelajari,

(9)  memprioritaskan ilmu diniyah dan baru kemudian ilmu dunia,

(10) mengenal nilai-nilai pragmatis dari suatu ilmu yang dipelajari, dan

(11) peserta didik harus tunduk dan patuh pada nasehat-nasehat pendidik.

Rumusan tersebut di atas menurut Ramayulis perlu dilengkapi dengan etika yang berkaitan dengan akhlak, yaitu;

(1)  mempunyai tujuan dalam menuntut ilmu,

(2)  tabah dan sabar dalam menuntut ilmu,

(3)  ihklas dalam menuntut ilmu dan menghormati guru agar memperoleh kerelaan dan keridhaan, dan    

(4)  bersungguh-sungguh diiringi doa kepada Allah agar berhasil dalam menuntut ilmu.

 

[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Cet. ke-9, h.133.

[2] Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

[3] Syamsul Nizar, makalah yang tidak diterbitkan, PPs. IAIN Imam Bonjol, Padang 1997.

[4] Ramayulis, 133-134.

[5] Ibid.

[6] Widodo Supriyono, Filsafat Manusia dalam Islam, Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h.179-181.

[7] Zakiyah Derajat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama), h. 168.

[8] Ramayulis, h. 156.

[9] Ramayulis, h. 157-172.

[10] Ramayulis, h. 172-173.

[11] Ramayulis, h. 174.

 

Posted in
Avatar

sps.iai.al-azhaar.lubuklinggau

Sekolah Pascasarjana Institut Agama Islam Al-Azhaar merupakan Kampus pascasarjana yang berlokasi di Jl. Pelita No. 364 Kel. Pelita Jaya RT.07 Kec. Lubuklinggau Barat I Kota Lubuklinggau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top