Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

MODEL PENGAJARAN KEJUJURAN
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
(Studi Inovasi Pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau)

 

Ah. Mansur, SE, M.Pd.I
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam (S3)
NPM : 11526111421/NIRM. 012.02.08.1959
Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun-Bogor
Dipromotori Oleh ; Prof. DR. H. Ahmad Tafsir, H. Adian Husaini, M.Si, Ph.D, DR. H. Endin Mujahidin, M.Si
Email. ahmansur75@gmail.com
 

ABSTRAK

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan menyasar enam indikator kejujuran, yaitu; 1) Disiplin, 2) Amanah, 3) Komitmen, 4) Konsisten, 5) Adil, dan 6) Berkata benar. Melalui enam indikator tersebut tingkat kejujuran seseorang diukur. Apakah seseorang dapat dikategorikan sebagai seseorang yang jujur atau sebaliknya. Melalui model pengajaran kejujuran ini dikembangkan upaya internalisasi nilai-nilai disiplin, amanah, komitmen, konsisten, adil dan berkata benar dengan meng-integrasikan berbagai elemen dan komponen sumber daya yang tersedia di sekolah berasrama atau pondok pesantren. Sehingga dengan melibatkan semua elemen dan komponen diharapkan mampu membangun nilai-nilai secara kolektif dan komprehensif. Diamana semua steakholder ikut melibatkan diri dan ikut juga bertanggung jawab secara moral. Pendidikan kejujuran sudah sangat urgen diterapkan ke seluruh lembaga pendidikan di Indonesia mengingat prilaku koruptif belakangan ini telah menggurita ke berbagai lini kehidupan bernegara. Hasil investigasi yang dilakukan oleh Transparency International Indonesia (TII), merilis temuannya pada tanggal 9 Desember 2012 yang dalam rangka memperingati hari anti korupsi sedunia, bahwa berdasarkan hasil Corruption Perception Index (CPI) tahun 2012, Indonesia berada di peringkat 118 dari 176 negara. Dengan skor 3,0 (2011) dan 3,2 (2012). Padahal Indonesia menargetkan skor 5,0 pada tahun 2014. Angka tersebut mengkonfirmasi adanya kelambatan pemberantasan korupsi di semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Memperhatikan fonomina memperihatinkan tersebut, lembaga pendidikan dalam berbagai tingkatannya sudah seharusnya ikut berperan aktif  melakukan upaya-upaya pencegahan dengan memberikan pendidikan kejujuran sejak dini. Metode penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) yang dikembangkan oleh Kurt Lewin, dengan melaksanakan treatment sebanyak tiga siklus. Masing-masing siklus dilakukan selama satu bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Pendidikan Kejujuran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berpengaruh sangat signifikan. Dimana nilai karakter jujur sebelum treatmen ditunjukkan dengan nilai rata-rata 1,79, dan karakter jujur setelah treatment ditunjukkan dengan nilai rata-rata 3,57. Perubahan ini memang sangat drastis karena nilai-nilai kejujuran dilakukan secara massal pada berbagai program pondok yang sengaja dikaitkan dengan program internalisasi karakter kejujuran. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan agar lembaga pendidikan umum maupun swasta, khususnya yang berasrama dapat menggunakan model pendidikan kejujuran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dan tentunya dapat dimodifikasi pada pelajaran dan kondisi sekolah yang berbeda.

 

ABSTRACT

This study aimed to develop honesty education model based on Information and Communication Technologies (ICT) by targeting the honesty character of six indicators, namely; 1) Discipline, 2) Trust, 3) Commitment, 4) Consistent, 5) Fairness, and 6) Say true. Through the six indicators measured someone’s honesty. Whether someone can be categorized as someone who is honest or otherwise. Through this honesty education model developed efforts to internalize the values ​​of discipline, trust, commitment, consistent, fair and said the right by clicking on integrating the various elements and components of the resources available at a boarding school or pesantren. So by involving all elements and components are expected to be able to build the values ​​collectively and comprehensively. Whenever all steakholder become involved and participate also morally responsible. Education is very urgent honesty applied to all educational institutions in Indonesia given the corruptive behavior has recently influence to various aspects of life of the state. The results of investigations conducted by Transparency International Indonesia (TII), released its findings on December 9, 2012 in commemoration of the anti-corruption globally, that is based on the results of the Corruption Perception Index (CPI) in 2012, Indonesia was ranked 118 out of 176 countries. With a score of 3.0 (2011) and 3.2 (2012). Though Indonesia is targeting a score of 5.0 in 2014. The figure confirmed their slowness to eradicate corruption at all levels of national and state. By looked at the sad factually of the educational institutions in various levels should take an active role to make efforts in prevention by providing education honesty early on. This research method using action research developed by Kurt Lewin, to carry out three cycles of treatment. Each cycle is done for one month. The results showed that the Honesty Education Model-Based Information and Communication Technology (ICT) is very significant effect. Where the value of honest character before treatments are indicated by an average value of 1.79, and honest character after treatment is indicated by the average value of 3.57. This change is so drastic because the value of honesty is done en masse in various programs cottage deliberately associated with the internalization of the character program honesty. Based on these results, it is suggested that public and private educational institutions, especially the boarding can use honesty education model based Information and Communication Technology (ICT). And of course can be modified on the lessons and the school conditions were different.

 

 

 

Pendahuluan

Kejujuran merupakan dasar sikap yang menunjukkan tingkat moralitas seseorang. Seseorang biasanya dinilai kualitas diri dan integritasnya dari seberapa tinggi nilai-nilai kejujuran termanivestasi dalam dirinya. Rasulullah Saw. dipercaya dan diterima ajaran yang dibawanya karena beliau dikenal sebagai seorang yang jujur (al-amien). Demikian juga Abu Bakar as-Shiddiq, yang selalu mempercayai apapun yang disampaikan Rasulullah kepadanya, menunjukkan sikap jujur dan ketulusan dirinya. Imam Raghib al-Aspahani mengatakan bahwa sikap jujur akan menjadi pondasi lahirnya “al-Akhlaq al-Karimah” lainnya.

Kejujuran sesungguhnya berkaitan erat dengan nilai kebenaran, termasuk di dalamnya kemampuan mendengarkan, kemampuan berbicara, serta perilaku yang biasa muncul dari tindakan manusia[1]. Konsep kejujuran yang harus ditanamkan adalah jujur kepada Allah Swt, jujur kepada diri sendiri serta jujur kepada lingkungan dan masyarakat sosial. Jika kehidupan masyarakat tidak dilandasi dengan nilai-nilai kejujuran, maka makna kehidupan akan kering dan gersang dari semua nilai, karena jujur sejatinya menjadi sumber dan atau elemen dasar dari segala nilai.

Saat ini menanamkan nilai-nilai kejujuran di lingkungan masyarakat, termasuk juga di lingkungan pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah. Hal ini disebabkan oleh terjadinya krisis keteladanan. Gaya hidup yang pragmatis, materialistis dan hedonis telah mencerabut nilai-nilai keihklasan, ketawadhu-an, kesederhanaan dan sikap mulia lainnya yang selama ini menjadi personifikasi seorang guru. Akibatnya peserta didik kehilangan panutan dan sepi dari sikap “uswah hasanah”. Puncak gunung es-nya adalah perilaku tidak jujur seperti bolos, menyontek saat ulangan dan ujian, terlambat masuk kelas dengan alasan mengada-ada, tidak mengerjakan PR dan bahkan mengkorupsi uang sekolah untuk jajan menjadi fenomena buruknya hasil pendidikan Indonesia.

Persoalan akhlak, khususnya kejujuran rupanya masih menjadi masalah serius bangsa ini. Carut marutnya sistem pendidikan nasional akibat belum lepas dari cengkraman politik kekuasaan berdampak kepada instabilitas pembangunan karakter (character building) di seluruh aspek kehidupan. Ini terjadi, karena pendidikan yang seharusnya menjadi pondasi utama pembentukan karakter sudah terinfeksi penyakit koruptif pada satu sisi, dan pada sisi yang lain lembaga pendidikan kehilangan sosok guru yang mampu menjadi figur dengan segala sikap teladannya. Kebijakan pendidikan nasional berjalan tidak dinamis serta mislink dengan kebutuhan regional, nasional dan apalagi internasional. Di bidang pembangunan karakter saja masih jauh panggang dari api. Apalagi harus bergerak pada bidang-bidang layanan publik, marketing dan industri yang belakangan ini semakin melibatkan teknologi.[2]

Kasus-kasus asusila, tawuran pelajar, anak melawan orang tua, hamil diluar nikah, kriminal dan terutama kasus korupsi sampai saat ini masih menjadi tontonan yang mengecewakan. Kelakuan para politisi, pejabat dan petinggi negeri ini seakan mengkonfirmasi keadaan sesungguhnya negara Indonesia. Beberapa fakta yang menjelaskan keadaan tersebut antara lain ;[3] (1) di bidang penegakan hukum, periode 2005-2011, kepolisian tercatat menangani 1.961 perkara dengan keuangan negara yang berhasil diselamatkan sebesar 679 milyar, (2) Kejaksaan Negeri periode 2004-2011 menangani 8.394 perkara, dan 6.831 di antaranya dilanjutkan ke penuntutan.[4]  Periode itu kejaksaan menyelamatkan keuangan negara lebih dari Rp 13 triliun, (3) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada periode 2004-2011 menyelidiki 417 kasus, menyidik 229 kasus, melakukan penuntutan 196 kasus, di mana dari jumlah itu yang sudah inkracht 169 perkara dan yang sudah dieksekusi 171 perkara. Pengembalian uang negara dari kasus yang ditangani KPK mencapai Rp 800 miliar, (4) KPK menerima laporan gratifikasi sebanyak 1.301 laporan. Dari program pencegahan, KPK juga menyelamatkan keuangan negara lebih dari Rp 151 triliun dan 321 juta dollar AS, (5) Permohonan perlindungan bagi peniup peluit untuk kasus korupsi yang diajukan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), tercatat LPSK menangani 103 permohonan perlindungan pada periode 2008-2011, (6) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pada periode 2004-2011, menyampaikan 794 laporan hasil analisis. Di sisi lain, tingkat kepatuhan pelaporan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) tahun 2011 menjadi 81,65 persen. Angka itu meningkat dibandingkan dengan tahun 2004 yang hanya 49,16 persen, (7) Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang dirilis Transparency International tahun 2011 masih di angka 3,0. Adapun Indeks Integritas Nasional yang dirilis KPK tahun 2011 masih 6,31. Indeks ini mengukur perbaikan sektor pelayanan public.[5]

Dari uraian di atas dapat ditarik benang merah bahwasanya negara Indonesia telah mengalami krisis kejujuran yang mengakibatkan terjadinya korupsi di berbagai lini. Dan bahkan melibatkan tokoh-tokoh terkemuka yang seharusnya menjadi panutan bagi anak bangsa. Kondisi ini paling tidak menjelaskan kepada generasi bangsa bahwa perilaku koruptif ibarat penyakit akut yang sangat sulit disembuhkan dan bahkan telah merambah ke seluruh sektor kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk pada lembaga-lembaga penegakan hukum.

Memperhatikan out come (keluaran) yang memprihatinkan ini, dan dalam rangka mempersiapkan peradaban baru di masa yang akan datang, maka sudah saatnya lembaga pendidikan mengambil peran strategis dalam usaha-usaha memperbaiki kualitas sumber daya manusia, terutama pada bidang pembangunan karakter. Karena hanya melalui lembaga pendidikan lah masih tersisa secercah harapan untuk merubah keadaan negeri ini. Lembaga informal pendidikan yang bernama “keluarga”, yang di zaman nenek moyang dulu menjadi  pilar utama pembentukan karakter, kini mayoritas telah menyerahkan tugas dan tanggung jawab pendidikan anak-anaknya kepada sekolah akibat tergerus arus pragmatisme dan materialisme.

Pondok pesantren dan lembaga pendidikan ber-asrama sangat memungkinkan untuk mengambil peran pembentukan karakter. Karena di lembaga ini berkumpul dua fungsi pendidikan yaitu; 1) Fungsi Keluarga, dimana guru berperan sebagai pengganti orang tua di rumah, dan 2) Fungsi Sekolah, dimana guru berperan sebagai pendidik. Dengan alasan dua fungsi ini pengembangan model pengajaran kejujuran dapat diterapkan. Paling tidak ada lima alasan mengapa pesantren dipilih untuk melaksanakan model pengajaran kejujuran, antara lain karena ;

pertama, Pesantren memiliki potensi Amar Makruf Nahi Mungkar. Sebagaimana diketahui, pesantren dilahirkan untuk merespon situasi dan kondisi sosial masyarakat yang tengah berhadapan dengan runtuhnya nilai-nilai moral. Pada posisi ini, kehadiran pesantren memerankan fungsi transformasi nilai (amar ma’ruf nahi munkar) dengan tawaran perubahan sosial (agent of social change) yang bergelut pada usaha-usaha pembebasan masyarakatnya dari segala keburukan moral, penindasan politik, pemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi.

Kedua, Pesantren dengan potensi pendidikannya. Dimana salah satu misi awal didirikannya pesantren adalah menyebarluaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam ke seluruh pelosok Nusantara yang berwatak pluralis, baik dalam dimensi kepercayaan, budaya maupun kondisi sosial masyarakat.[6]

Ketiga, Pesantren ditempati  para generasi penerus bangsa dengan sistem pendidikan full time (24 jam), full years (sepanjang tahun) dengan motto belajar sepanjang hayat, tidak dibatasi oleh selesainya pendidikan formal.[7]

Keempat, Pesantren memberikan keseimbangan antara pemenuhan lahir dan batin, antara pendidikan agama dan umum, antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.

Kelima, Pesantren sebagai agent of culture. Pada posisi ini pesantren menjadi pusat peradaban bagi masyarakatnya. Dimana budaya masyarakat sangat dipengaruhi oleh tradisi pesantren baik secara langsung melalui interaksi pesantren dengan masyarakat maupun tidak langsung melalui karakter santri-santrinya yang dibentuk oleh pesantren.[8]

Kekuatan potensi inilah yang memungkin pesantren memiliki peluang paling besar untuk mengimplementasikan internalisasi nilai-nilai kejujuran, walapun tidak menutup kemungkinan lembaga pendidikan lain menerapkan model ini dengan modifikasi sesuai situasi dan kondisinya.[9]

 

Rumusan Masalah

Memperhatikan permasalahan serius bangsa Indoensia saat ini, dan dikaitkan dengan rencana penelitian tindakan yang bernaksud memperbaiki akhlak, khususnya dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut ;

  1. Seberapa baik nilai kejujuran santri Pondok Pesantren Al-Azhaar sebelum adanya treatment treatment?

  2. Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan treatment Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)?

  3. Bagaimana respon santri Pondok Pesantren Al-Azhaar dalam mengikuti treatment Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi?

  4. Seberapa baik peningkatan nilai kejujuran santri Pondok Pesantren Al-Azhaar setelah adanya treatment?

 

Metode

Penelitian ini adalah penelitian tindakan (Action Research) dengan metode eksperimen semu (quasi experiment) serta melibatkan pihak lain secara kolaboratif-parsipatoris. Hasil penelitian dideskripsikan berdasarkan data-data yang diperoleh, baik data kuantitatif, data kualitatif dan atau data yang bersumber dari pengamatan. Penelitian ini terdiri dari satu variabel independen dan satu variabel dependen. Satu variabel independen merupakan satu usaha tindakan atau treatment, yaitu “Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi”, dan variabel dependen dimaksud adalah pengaruh tindakan yang diharapkan, yaitu perbaikan dan peningkatan sikap dan prilaku jujur santri. Subyek penelitian ini adalah santri Pondok Pesantren Al-Azhaar sebanyak 55 orang yang terdiri dari kelas 1 Madrasah Tsanawiyah dan kelas 1 Madrasah Aliyah. Melibatkan empat orang guru sebagai pembimbing akademik dan empat orang kolaborator sebagai pengamat. 55 orang tersebut merupakan populasi dan bukan sampel.

Alat ukur atau media yang digunakan dalam penelitian ini adalah program-program yang ada dan telah berlangsung di Pondok Pesantren Al-Azhaar dengan beberapa penambahan seperti, kantin kejujuran, e-money card, aplikasi point of sale dan dapur kejujuran. Adapun akhlak yang ingin diperbaiki adalah terinternalisasinya sikap dan prilaku jujur melalui enam indikator, yaitu; (1) Disiplin, (2) Amanah (Tanggung Jawab), (3) Komitmen (Menepati Janji), (4) Konsisten (Teguh Pendirian), (5) Adil dan (6) Berkata Benar.

 

Definisi Pengajaran Kejujuran

Para ahli pendidikan memberikan pengertian yang berbeda-beda tentang definisi pengajaran. Walapun demikian secara umum memiliki substansi yang sama. Burton menyatakan “teaching is the guidance of learning activities”.[10]  Sedangkan Hamalik mengemukakan bahwa mengajar dapat diartikan sebagai (1) menyampaikan pengetahuan kepada siswa, (2) mewariskan kebudayaan kepada generasi muda, (3) usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa, (4) memberikan bimbingan belajar kepada murid, (5) kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, (6) suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.[11] Tardif mendefinisikan, mengajar adalah any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang pendidik dengan tujuan membantu atau memudahkan peserta didik melakukan kegiatan belajar.[12] Adapun Biggs, seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar ke dalam tiga pengertian yaitu ; (1) Pengertian Kuantitatif.  Mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan sesuai bidang studinya dan menyampaikan kepada peserta dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar.  (2) Pengertian institusional.  Mengajar berarti  “the efficient orchestration of teaching skills”, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini pendidik dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap peserta didik yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan dan kebutuhannya. (3) Pengertian kualitatif.  Mengajar diartikan sebagai “the facilitation of learning”, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar peserta didik dalam mencari makna dan pemahamannya sendiri.[13]

Sedangkan “Kejujuran” berasal dari kata jujur dan merupakan lawan kata dusta. Dalam bahasa Arab disebut “ash-Shidqu” yang diambil dari kata “Shadaqa”. Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Luhah mengatakan bahwa kata “shadaqa” berasal dari shad, dal dan qaf yang mengandung makna kekuatan terhadap sesuatu, baik aspek perkataan atau lainnya. Sedangkan “Ash-Shiddiq” adalah orang yang selalu bersikap jujur baik dalam perkataan mau pun perbuatan.[14]

Allah menyebut kata jujur dalam al-Qur’an dengan berbagai variannya sebanyak 312 kali.[15] Kata ( صادقون/صادق صادقين) disebut 52 kali, kata ( مصدق/صِدقً ) disebut 17 kali, kata ( صدقات/صدقة  ) disebut 12 kali, kata ( اصدق ) disebut 2 kali, kata  ( صَدَقَ ) disebut 19 kali, kata ( صدقوا ,ثصدقوا ) disebut 5 kali, dan kata  (صديقة , صديق, ثصديق  ) disebut 7 kali.

Secara terminologi para ulama berbeda pendapat dalam memberikan definasi jujur. Imam Roghib al-Ashfahani mengartikan Jujur sebagai kata hati yang sesuai dengan apa yang diungkapkan.[16] Sedangkan Imam Jurjani mengatakan Jujur adalah hukum yang sesuai dengan kenyataan. Jujur adalah kesesesuaian antara lahir dan batin. yaitu ketika keadaan seseorang tidak didustakan  dengan tindakan-tindakannya, begitu pula sebaliknya.[17]  

Allah Swt membahas masalah kejujuran dalam beberapa ayat, diantaranya dalam al-Qur’an surah At-Taubah ayat 119; (Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar), dalam al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 33 (Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. Rasulullah Saw juga menekankan pentingnya prilaku jujur, sebagai mana haditsnya ;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى اللّه عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَاِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا (اخرجه مسلم)

“Dari Abdillah berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Kalian harus jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur akan ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta akan ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.”[18]

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَمَلُ الْجَنَّةِ قَالَ الصِّدْقُ وَإِذَا صَدَقَ الْعَبْدُ بَرَّ وَإِذَا بَرَّ آمَنَ وَإِذَا آمَنَ دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَمَلُ النَّارِ قَالَ الْكَذِبُ إِذَا كَذَبَ الْعَبْدُ فَجَرَ كَفَرَ وَإذَا كَفَرَ دَخَلَ يَعْنِي النَّارَ(اخرجه أحمدفي الرسالة)

“Dari Abdillah bin Umar bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya kepada Rasul. Apa itu amal surga? Rasul menjawab, “jujur, ketika seorang jujur maka dia telah melakukan perbuatan baik, dan bila ia berbuat baik maka dia akan aman/ selamat dan bila dia selamat, maka dia akan masuk surga.” Laki-laki itu bertanya, “Apa itu amal neraka?” Rasul menjawab, “Bohong, ketika seorang (hamba) berbohong maka dia telah berbuat salah. Ketika salah maka dia telah kafir dan apabila dia kafir maka dia masuk neraka.”

 

Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka secara termenologi pengajaran kejujuran dapat didefinikan; “seluruh usaha yang dilakukan seorang pendidik secara terencana dan terprogram dengan tujuan membantu peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dengan menularkan pengetahuan dan menginternalisasi nilai-nilai melalui sikap dan prilaku dalam usaha mngembangkan potensi kejujuran dalam diri peserta didik”.

 

Debatable Antara Akhlak dan Karakter

Akhlak memiliki dimensi ilahiyah, sedangkan moral atau nilai dapat dimiliki dan diajarkan tanpa menyertakan Tuhan. Akhlak tidak dapat dibicarakan tanpa mengaitkan dengan perintah dan larangan. Sedangkan karakter hanya berbicara pada lingkup baik dan buruk menurut pendapat manusia. Sehingga dari konsep ini muncul terori relativitas (Nilai-nilai relatif) yang dicetuskan oleh Leland Dewitt Baldwin,[19] dan dilegitimasi oleh Aristoteles. Sedangkan Lickona melahirkan teori universalitas nilai sebagai landasan moral yang otoritatif dan absolute, dengan dua standar, (1) reversibility, yaitu; apakah kita ingin mendapatkan perlakuan serupa dari orang lain, dan (2) unreversilibility, yaitu; apakah semua manusia ingin berprilaku serupa dalam menghadapi situasi yang sama.[20] Kedua standar di atas perlu dikritisi karena reversibilitas tidak cocok untuk diterapkan di pengadilan.[21]

Lickona berargumentasi bahwa sebuah nilai seperti menghormati orang lain, kemerdekaan (liberty) dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang rasional dan absolute. Nilai-nilai ini dapat diterima semua manusia dari Negara manapun dan agama apapun. [22] Dalam hal ini Lickona sudah tepat memberikan kesimpulan bahwa manusia memerlukan standar nilai yang absolute. Sayangnya ia lupa bahwa seluruh manusia bisa saja bersepakat atas konsep dasar sebuah nilai namun berselisih dalam detilnya. Menghormati orang lain, misalnya, apakah termasuk menghormati pilihan seseorang untuk keluar masuk agama? Islam menolak toleransi semacam ini. Dalam Islam hukum murtad adalah haram dan merupakan perbuatan dosa besar. Fakta ini menunjukkan bahwa keabsolutan dan keuniversalan nilai yang digagas Lickona, gagal dibuktikan.

Peradaban Barat modern menganggap nilai sebagai produk rasionalitas individu-individu, namun ketika nilai berada dalam konteks sosial dan budaya, maka nilai diartikan sebagai konsensus bersama sekelompok manusia. Sebagaimana pandangan Weber, salah seorang tokoh sosiolog Barat, yang menyatakan bahwa nilai itu ada secara objektif dalam subjektivitas manusia dan murni menjadi milik dari pribadi-pribadi.[23]

Dengan demikian, konsepsi Barat tentang nilai, moral, dan etika bersifat relatif dan sangat berbeda bahkan bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Konsep tentang apa yang disebut baik dan buruk merupakan kancah pertarungan pemikiran yang tak pernah henti dari filosof-filosof Barat, sejak jaman Yunani sampai hari ini. Dari pendidikan yang berorientasi kepada etika Kristen sebagaimana pemikiran Thomas Aquinas, kemudian berubah menjadi paham materialisme yang dikembangkan Descartes. Sejak saat itu, ilmu dianggap sebagai value free atau bebas nilai sehingga pendidikan di Barat dikembangkan “tanpa nilai”. Moral, etika, agama, kemudian dijauhkan dari kurikulum dengan harapan manusia dapat lebih cerdas dan kreatif dalam menciptakan dan berinovasi di bidang sains dan teknologi.[24]

Hal tersebut tentunya berbeda dengan pendidikan karakter dalam Islam yang menekankan pada konsep adab. Islam berbeda dengan Barat, mempunyai teladan manusia yang berkarakter sempurna, yaitu Rasulullah saw. Konsep adab dalam Islam terkait dengan keyakinan bahwa dalam melakukan tindakan, manusia mempunyai rujukan yang utama yaitu wahyu Allah swt dan sunnah Nabi-Nya. Konsep pendidikan karakter yang bercorak sekuler-liberal tidak mungkin dapat mencetak manusia-manusia beradab. Menurut Prof al-Attas, prinsip etika yang sejati dan universal hanya dapat dibangun oleh jiwa manusia yang bersifat spiritual. Yaitu ketika jiwa mendapatkan ilmu yang benar dari Tuhannya. Sehingga merupakan sesuatu yang memprihatinkan apabila umat Islam masih percaya bahwa etika universalitas dapat dibangun menggunakan framework Barat modern yang menganggap Tuhan dan jiwa tidak memiliki objektivitas dan nilai ilmiah sebagai sumber ilmu.[25]

 

Konsep Pengajaran Kejujuran

Berangkat dari persoalan ini, maka konsep dasar pendidikan kejujuran harus berangkat dari nilai-nilai ilahiyah, agar keilmuan yang dihasilkan nantinya tidak bias, dan bahkan bisa menguatkan teori-teori ilmu keislaman lainnya.

Setelah menelaah, memperhatikan dan mendalami teori-teori di atas dapat penulis simpulkan bahwa pengembangan model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pendidikan Islam, sejatinya bersumber pada nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Hadits, yang merupakan sumber kebenaran absolute bagi umat Islam.

Konsep pengajaran kejujuran secara makro ditunjukkan pada gambar berikut;

 

 

Gambar 1: Konsep Makro Internalisasi Akhlak

 

Gambar diatas memberikan penjelasan bahwa pengajaran kejujuran dikontekstualisasikan kepada akhlak yang bersumber dari wahyu, bukan kepada karakter yang bersumber dari nilai-nilai universalitas manusia sebagamana tawaran Lichona. Karena itu, internalisasi akhlak pada peserta didik dalam pengajaran kejujuran melibatkan komponen-komponen sebagai berikut ;

Pertama; Al-Qur’an, al-Hadis, agama dan Fitrah Manusia. Kedua; Nilai-Nilai Luhur, Sosial dan Budaya; Ketiga; Etika, Moral dan Budi Pekerti; Keempat; Pancasila, UUD 1945 dan UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003; Kelima; Lingkungan Keluarga . Keenam; Lingkungan keluarga sebagaimana firman Allah “Peliharalah dirimu dan dan keluargamu dari api neraka[26] dan Rasul-Nya “ Setiap anak yang terlahir membawa fitrahnya. Maka sangat tergantung kepada kedua orang tuanya, apakah anak itu akan diarahkan menjadi seorang Yahudi, atau menjadi Majusi dan atau menjadi Nasrani”;[27] Keenam; Lingkungan Sekolah; Ketujuh; Lingkungan Masyarakat.[28]Kedelapan; Habituasi. Habituasi adalah pembiasaan yang diprogram maupun tidak diprogram oleh orang tua di rumah, maupun oleh guru di sekolah; Kesembilan; Intervensi. Intervensi adalah bentuk perlakuan atau campur tangan orang tua dan guru selaku pendidik dalam setiap proses pendidikan.

Pelibatan sembilan komponen dasar dalam proses internalisasi akhlak  sejatinya akan melahirkan generasi-generasi Muslim yang cerdas intelektual, cerdas spritual dan cerdas emosional yang berakhlak mulia. Yang bila dikembalikan pada konsep dasarnya, pengajaran akhlak yang melibatkan semua komponen yang bersumber pada al-Qur’an dan al-Hadits, pastilah akan melahirkan generasi rabbani yang berakhlak mulia sebagai core ethical values.

Sembilan komponen diatas selanjutnya didesain menjadi sebuah sistem pendidikan kejujuran yang melibatkan seluruh sumberdaya yang ada, seperti gambar berikut ;

Gambar 2 : Proses Internalisasi Nilai-Nilai Kejujuran

Proses internalisasi nilai-nilai kejujuran sebagaimana digambarkan, hendaknya berawal dari masalah-masalah yang berhasil dikumpulkan melalui observasi. Selanjutnya berdasarkan masalah-masalah tersebut dirancang rencana-rencana treatment dengan model pengajaran kejujujuran, yaitu (1) pengajaran, (2) peneladanan, (3) pembiasaan, (4) pemotivasian, dan (5) penegakan aturan, dengan melibatkan komponen-komponen seperti ; (1) Ibadah amaliyah, (2) kantin kejujuran dan dapur kejujuran, (3) kegiatan ekstra kurikuler seperti pramuka, kesenian, olah raga, (4) kegiatan informal seperti doa bersama setiap selesai shalat berjamaah, doa bersama sebelum tidur, doa bersama sebelum dan sesuah makan, mencium tangan guru sebelum masuk kelas, serta diperkuat oleh sumberdaya yang ada, yaitu (1) pembimbing akademik, (2) peraturan asarama, (3) media teknologi, dan (4) interaksi sosial.

Proses pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara sederhana ditampilkan pada gambar berikut ;

Gambar 3 : Proses Internalisasi Nilai-Nilai Kejujuran Menggunakan TIK.

 

Gambar diatas menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai kejujuran dalam kontek keislaman dan keindonesiaan hendaknya berangkat dari sumber-sumber al-Qur’an, al-Hadits, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kemudian internalisasi nilai diproses melalui dua cara, yaitu intervensi dan habituasi. Sedangkan model yang digunakan dalam proses internalisasi adalah pengajaran, peneladanan, pembiasaan, pemotivasian dan penegakan aturan, dengan sasaran pengembangan potensi akhlak yang merupakan indikator kejujuran, yaitu disiplin, amanah, komitmen, konsisten, adil dan berkata benar. Penerapan lima model pendidikan tersebut menggunakan dua media, yaitu (1) menggunakan media Teknologi Informasi dan Komunikasi, yaitu pengajaran dan pemotivasian, dan (2) menggunakan program pondok, yaitu peneladanan, pembiasaan dan penegakan aturan.

  

Indikator Kejujuran

Inikator kejujuran didasarkan pada hadits Rasulullah Saw;

“Jaminkan kepadaku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku menjamin bagi kalian surga: jujurlah jika berbicara, penuhilah jika berjanji, tunaikan jika dipercaya, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan, dan tahanlah tangan kalian”.[29]

 

Hadits diatas menjelaskan enam indikator kejujuran, yaitu 1) Jujurlah ketika berbicara (Berkata Benar), 2) Penuhilah jika berjanji (Komitmen), 3) Tunaikan jika dipercaya (Amanah), 4) Jagalah kemaluan (menahan hawa nafsu), 5) Tundukkanlah pandangan (rendah hati), dan tahanlah tangan (bijaksana/tidak mudah marah).

Dari enam indikator kejujuran diatas penulis mengambil tiga indikator yang berhubungan dengan kehidupan sosial atau berhubungan dengan orang lain, yaitu; (1) Berkata Benar, (2) Komitmen, dan (3) Amanah. Sedangkan tiga indikator lainnya mengambil sumber-sumber ayat dan hadits lainnya yang berkaitan erat dengan nilai-nilai kejujuran, yaitu (1) Disiplin, (2) Konsisten, dan (3) Adil.

Dengan demikian maka indikator kejujuran yang dibahas dalam penelitian dan pelaksanaan treatment adalah ; (1) Disipin, (2) Amanah, (3) Komitmen, (4) Konsisten, (5) Adil, dan (6) Berkata Benar. Enam indikator tersebut saling berjalin kelindan yang ditunjukkan pada gambar berikut ;

Gambar 3 : Indikator Kejujuran

Enam indikator kejujuran sebagaimana divisualisasikan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut ;

Pertama; Disiplin (Tepat Waktu). Disiplin dimaknai sebagai upaya pengendalian diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam hatinya.

Disiplin dapat diaplikasikan pada beberapa situasi, yaitu (1) disiplin dalam taat, (2) Disiplin dalam menggunakan waktu, (3) Disiplin diri, (4) Disiplin dalam bermasyarakat, (5) Disiplin Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, dan (6) Disiplin di sekolah. Allah Swt menegaskan dalam firman-Nya yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”[30]

Kedua; Amanah (Bertanggung Jawab). Dalam diri manusia melekat tiga peran pokok yang harus dimainkan dalam kehidupannya yaitu peran manusia sebagai hamba Allah SWT, peran manusia sebagai makhluk sosial dan peran manusia sebagai duta Tuhan di bumi (khalifah fil ardl).[31]

Ketiga; Komitmen (Menepati Janji). Hukum berjanji adalah boleh (jaiz) atau disebut juga dengan mubah. Tetapi hukum memenuhi atau menepatinya adalah wajib. Melanggar atau tidak memenuhi janji adalah haram dan berdosa. Sedangkan dosanya bukan sekedar hanya kepada orang yang dijanjikan tetapi juga kepada Allah swt. Dasar wajibnya penunaian janji antara lain adalah al-Qur’an surah al-Maidah ayat 1,[32] surah An-Nisa’ ayat 120, [33] dan surah al-Ahzab ayat 7-8. Q.S. [34]

Keempat; Konsisten (Teguh Pendirian). Teguh pendirian dalam istilah bahasa Arab disebut Istiqomah, dan Istiqomah merupakan anonim dari thughyan (penyeimbang atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Allah Swt menjelaskan dalam firmannya; “Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.”[35]  Ayat ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah Saw, “Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.”[36]

Kelima; Adil. Kata adil berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut kamus bahasa Indonesia, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak dan berpihak kepada salah satu, tetapi justru berpegang kepada kebenaran dan kepatutan. Dengan demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu kecuali keberpihakannya kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenang-wenang. Dalam kitab suci Al-Quran digunakan beberapa term/istilah yang digunakan untuk mengungkapkan makna keadilan. Lafad-lafadz tersebut jumlahnya banyak dan berulang-ulang. Diantaranya lafadz “al-adl” dalam Al-quran dan dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 35 kali. Lafadz “al-qisth” terulang sebanyak 24 kali. Lafad “al-waznu” terulang sebanyak 23 kali. Dan lafadz “al-wasth” sebanyak 5 kali. Jadi kata yang merujuk kepada makna adil atau keadilan diulang sebanyak 87 kali di dalam al-Qur’an.[37]  Ini berarti bahwa bersikap dan berbuat adil merupakan perintah Allah yang seharusnya menjadi karakter dan prilaku hamba Allah. Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan ada setidaknya tiga hakikat keadilan yang harus ditegakkan, yaitu: (1) Adil dalam arti sama (al-musawat). Yaitu perlakuan yang sama atau tidak membedakan antara yang satu dengan yang lain;   menyangkut persamaan hak perlindungan atas kekerasan, kesempatan dalam pendidikan peluang mendapatkan kekuasaan, memperoleh pendapatan dan kemakmuran. Juga persamaan dalam hak, kedudukan dalam proses di muka hukum tanpa memandang ras, kelompok, kedudukan/jabatan, kerabat, kaya atau miskin, orang yang disukai atau dibenci hatta terhadap musuh sekalipun, (2) Adil dalam arti keseimbangan (at-Tawazun). Seimbang di sini tidak selalu sama antara dua pihak tersebut secara kuantitatif, tapi lebih kepada proporsional dan profesional, (3) Adil dalam pengertian terhadap hak-hak individu. Adil dalam pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau “memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat”. Hal ini dijelaskan oleh dalam Al-Qur’an; “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan[38]

Keenam; Berkata Benar. Yang dimaksud berkata benar adalah menyampaikan sesuatu sesuai dengan fakta atau sesuai dengan kenyataannya. Abu Bakar RA, diberi gelar “Ash-Shiddiq” karena beliau dalam sejarah hidupnya tidak pernah menyampaikan berita yang tidak benar. Rasulullah Saw bersabda;[39] “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam”. Dan Allah menegaskan dalam al-Qur’an;[40]“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”

Dan jujur sebagaimana diilustrasikan pada gambar diatas sejatinya menjadi tujuan utama (Core Ethical Values) dalam pengajaran akhlak, agar dari terbentuknya nilai-nilai kejujuran pada setiap pribadi peserta didik, di kemudian hari akan terbangun kerangka bangunan etik kebangsaan dan moral kenegaraan yang berbasis pada termanivestasinya nilai-nilai kejujuran pada setiap warga Negara (good man), yang kemudian merambah kepada setiap keluarga, dan kemudian membentuk kelompok masyarakat yang berkeadaban serta puncaknya mampu membentuk tatanan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang berakhlak karimah (citizenship).

 

Kurikulum Pendidikan Kejujuran

Kurikulum pengajaran kejujuran dalam penelitian ini merupakan pengembangan model pendidikan karakter Glaser yang dikembangkan oleh Aan Hasanah,[41] selanjutnya dikembangkan menjadi model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi oleh penulis, yang komponen-komponen digambarkan pada table berikut;

Komponen Kurikulum Pengajaran Kejujuran

Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi

 

Tujuan

Isi atau Materi/ Indikator Nilai-Nilai Kejujuran

Media

Metode/ Model

Proses

Evaluasi

Umum

Khusus

Santri dapat mengetahui nilai-nilai kejujuran menurut al-Qur’an Hadits, Pancasila, UUD ’45, dan UU Sisdiknas No.20 Th. 2003

Santri berkarakter jujur dilandasi oleh pemahaman yg benar sesuai al-Qur’an dan Hadits

-Disiplin

-Amanah

-Komitmen

-Adil

-Berkata Benar

E-learning

Multimedia

Youtube

Line

Whatsapp

E-mail

 

Pengajaran

Peneladanan

Pembiasaan

Pemotivasian

Penegakan Aturan

kurikulum, guru, siswa, Strategi dan lingkungan

Online Questions, project, product, porto folio dan performance

 

Komponen kurikulum pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagaimana digambarkan pada tabel diatas, setidaknya terdiri dari; (1) tujuan umum dan tujuan khusus, (2) isi atau materi yang berisi konten tentang indikator nilai-nilai kejujuran, (3) media, (4) model atau metode, (5) proses, dan (6) evaluasi. Komponen-komponen tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Bertolak dari identifikasi Ramayulis tentang tujuan pendidikan secara nasional yang terdiri dari; (1) tujuan akhir, (2) tujuan umum, (3) tujuan khusus, dan (4) tujuan sementara yang sekaligus mencakup tiga domain; yaitu domain kognitif, afektif, psikomotorik dan ,[42] maka tujuan pengajaran kejujuran yang lingkupnya lebih sempit dari tujuan pendidikan, pada model pengajaran kejujuran hanya menyasar kepada tujuan umum dan tujuan khusus.

Pertama; tujuan pengajaran kejujuran. Tujuan pengajaran kejujuran terdiri dari dua, yaitu ; (1) tujuan umum, dan (2) tujuan khusus. Tujuan umum pengajaran kejujuran adalah terbentuknya akhlak karimah pada setiap peserta yang berbasis al-Qur’an dan Hadits serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang bersumber pada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, yang menghargai kebhinnekaan serta berkometmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan tujuan khusus pengajaran kejujuran adalah terinternalisasinya sikap hidup, pola pikir dan prilaku jujur pada diri peserta didik sehingga nilai-nilai kejujuran tertanam kuat dan mengakar kokoh serta menjadi kepribadian yang islami.

Kedua; Isi atau Materi pengajaran Kejujuran. Isi atau materi pengajaran kejujuran terdiri dari konsep-konsep atau ilmu-ilmu  yang menyasar pada enam indikator kejujuran yang terdiri dari; 1) Mukaddimah, 2) Definisi Jujur, 3) Konsep Jujur, 4) Jujur Dalam Persfektif Al-Qur’an dan Al-Hadits, 5) Bentuk-bentuk kejujuran, 6) Keutamaan Berprilaku Jujur, 7) Penyebab tidak jujur dan keadaan yang membolehkannya, 8) Dampak Buruk dan ancaman bagi pembohong, 9) Sebelas manfaat berprilaku jujur, 10) Kisah sukses orang-orang jujur, dan 11) Video motivasi.

Ketiga; Media. Kata media secara etimologi berasal dari bahasa latin, yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium”. Secara harfiah kata tersebut mempunyai arti “perantara” atau “pengantar”, yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Kata media berasal dari bahasa latin yaitu “medium”,  yang berarti “tengah” atau “sedang”. Sedangkan media dalam kontek pembelajaran merupakan suatu wadah atau sarana dalam menyampaikan suatu informasi dari pendidik kepada peserta didik. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi dalam proses pembelajaran.[43] Pengertian terbatas tersebut diperkuat oleh Asosiasi pendidikan Nasional atau Education Association (NEA) yang membatasi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun Audio-Visual serta peralatannya yang dapat dimanipulasi, dapat didengar, dilihat dan dibaca.[44] Penerapan pengajaran kejujuran yang dalam implementasinya menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi, terdiri dari  perangkat-perangkat elektronik dan aplikasi berbasis internet, yaitu ; (1) E-learning, (2) Lab. Multimedia, (3) Youtube, (4) Line, (5) Whatsapp, dan (6) E-mail.

Keempat; Model atau Metode. Metode yang digunakan dalam proses pendidikan karakter jujur  adalah direct metode. Dimana guru menjadi figur sentral serta model yang memberikan pengaruh dengan tindakan atau sikap-sikap yang memotivasi terbangunnya karakter jujur dalam kehidupan peserta didik. Metode pendidikan karakter bersumber dari cara-cara Rasulullah Saw memberikan pendidikan kepada para sahabat, yaitu ; 1) Pengajaran, 2) Peneladanan, 3) Pembiasaan, 4) Pemotivasian dan 5) Penegakan Aturan. [45]  Dari kelima metode tersebut, metode pengajaran memiliki porsi 10 persen, metode peneladanan 40 persen, metode pembiasaan 20 persen, metode pemotivasian 15 persen, dan metode penegakan aturan 15 persen. Lima metode tersebut selain merupakan metode yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah Saw, juga sangat sesuai diimplementasikan pada lembaga pendidikan berasrama semacam boarding school maupun pondok pesantren. Berikut beberapa penjelasan terkait ;

  1. Pengajaran sering difinisikan sebagai sebuah proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari pendidik kepada pesera didik. Smith menyatakan bahwa pengajaran adalah proses menanamkan pengetahuan atau keterampilan (teaching is importing knowlagde of skill). Sedangkan Roestiah NK mendefinisikan mengajar sebagai bimbingan kepada anak dalam proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa guru hanya sebagai pembimbing, penunjuk jalan dan pemberi motivasi. Dalam konteks standar proses pendidikan, mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, atau memberikan stimulus sebanyak banyaknya, akan tetapi lebih dipandang sebagai proses pengatur lingkungan agar peserta didik belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.[46] Proses pengajaran memerlukan adanya interaksi diantara keduanya, yakni pendidik dan peserta didik.[47] Dalam model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) seorang pendidik meng-upload materi ajar ke aplikasi e-learning, kemudian melaksanakan pembelajaran menggunakan multimedia (power point atau internet), memberikan motivasi melalui vidio-vio motivasi yang tersedia di youtube atau mengunggah vidio ceramah yang dibuat sendiri oleh pendidik, serta melakukan evaluasi secara online melalui aplikasi e-learning.

  2. Peneladanan. Manusia lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat. Keteladanan menempati posisi yang sangat penting. Pendidik harus terlebih dahulu memiliki karakter yang hendak diajarkan kepada peserta didiknya. Keteladanan tidak hanya bersumber dari pendidik, melainkan pula dari seluruh manusia yang ada di lingkungan pendidikannya, termasuk dari keluarga dan masyarakat. Keteladanan sebagai inti pendidikan akhlak di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Di sekolah pendidik hendaknya menjadi gambaran kongkrit dari konsep moral dan akhlak yang tumbuh dari nilai-nilai keimanan serta didemontrasikan kepada peserta didik dalam setiap tindakan dan kebijakan. Guru menjadi model karakter ideal atau teladan dalam beriteraksi dengan lingkungan social, di sekolah mapun di masyarakat, serta menunjukkan kompetensinya sebagai seorang guru yang patut digugu dan ditiru. Dengan demikian peserta didik dapat dengan mudah mendapatkan gambaran tentang akhlak mulia seperti yang dikehendaki undang-undang.[48]Abdullah Nashih Ulwan menyatakan bahwa keteladanan orang tua kepada anaknya meliputi kejujuran, amanah, iffah, pemberian kasih sayang, perhatian, menyediakan sekolah yang cocok dan memilihkan teman bagi anaknya. Sedangkan keteladanan seorang pendidik menurutnya adalah ketakwaan, keihklasan, keluasan ilmu, sopan santun dan tanggung jawab.[49]

Paling tidak menurut Muhammad Yaumi ada tiga keteladanan yang harus ditanamkan kepada peserta didik, yaitu integritas, profesionalitas dan keikhlasan. Integritas adalah keutuhan dalam seluruh aspek hidup, khususnya antara perkataan dan perbuatan. Adapaun profesionalitas adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar, mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.[50] Sedangkan keikhlasan adalah segala perbuatan, perkataan dan perasaan secara totalitas dipersembahkan kepada keridhaan Sang Maha Pencipta.[51]

Proses peneladanan dalam lingkungan pendidikan berasrama, dilakukan dengan cara memberikan contoh nyata dalam bentuk lahirnya kepribadian. Bukan contoh yang disetting atau dibuat hanya dalam kasus tertentu atau untuk waktu tertentu. Contoh nyata itu harus sudah merupakan karakter yang terimplementasi dalam sosok guru atau Pembimbing Akademik. Dalam proses ini pendidik menjadi figur atau role model bagi santri, baik dalam sikap, perkataan dan perbuatan. Baik dalam ibadah amaliyah, dalam berbusana, dalam bergaul, dalam berbicara dan dalam bersikap.

  1. Pembiasaan. Dalam internalisasi kejujuran, pembiasaan merupakan aspek yang sangat penting sebagai bagian dari proses pembentukan sikap dan prilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang. Sikap atau prilaku yang telah menjadi kebiasaan mempunya ciri-ciri sebagai berikut ; a) prilaku tersebut relatif menetap, b) pembiasaan umumnya tidak memerlukan fungsi berpikir yang cukup tinggi, misalnya untuk dapat mengucapkan salam cukup fungsi berpikir berupa mengingat atau meniru saja, c) kebiasaan bukan sebagai hasil dari proses kematangan, tetapi sebagai akibat atau hasil pengalaman atau belajar, d) prilaku tersebut tampil secara berulang-ulang sebagai respon terhadap stimulus yang sama. Kebiasaan juga merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan peserta didik. Upaya ini dilakukan mengingat manusia mempunyai sifat lupa dan lemah seperti dikutip M. Mudjib merumuskan tiga asas metode; 1) adanya relevansi dengan kecenderungan dan watak peserta didik, baik aspek intelegensi, sosial ekonomi dan status keberadaan orang tuanya, 2) memelihara prinsip umum diataranya berangsur-angsur dari yang mudah menuju ke yang sulit, dari yang terperinci ke yang terstruktur, dari yang ilmiah ke yang filosofis, 3) memperhatikan perbedaan individual misalnya nilai keimanan tidak begitu saja hadir dalam jiwa seseorang tetapi ia perlu ditanamkan, dipupuk dan diarahkan agar menjadi miliknya, menjadi motivasi, semangat dan kontrol terhadap pola tingkah laku.[52] Hal ini didukung oleh Ibnu Sina yang mengatakan bahwa pembiasaan termasuk salah satu metode pengajaran yang paling efektif, khususnya dalam mengajarkan akhlak. Cara tersebut secara um\an jiwa si anak.

Penerapan model pengajaran kejujuran dengan metode pembiasaan dilakukan dengan memperkuat program yang sudah berjalan dan menambah program pembiasaan baru sebagai langkah pengembangan area internalisasi nilai-nilai kejujuran. Program pembiasaan yang sudah berjalan di pondok pesantren antara lain membaca doa secara berjamaah setelah shalat wajib lima waktu, berdoa bersama menjelang tidur malam, shalat wajib berjamaah , shalat tahajjud, shalat dhuha, puasa Senin-Kamis, belanja mandiri menggunakan e-money card, makan berjamaah secara islami dan pembiasaan salam sungkem kepada guru sebelum masuk sekolah.

  1. Pemotivasian. Sebagaimana yang telah disinggung diatas bahwa motivasi merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi siswa. Apalah artinya seorang siswa pergi ke sekolah tanpa mempunyai motovasi belajar. Bahwa diantara sebagian siswa ada yang mempunyai motivasi untuk belajar dan sebagian lagi belum termotivasi untuk belajar.

  2. Penegakan Aturan. Penegakan aturan merupakan aspek yang harus diperhatikan dalam pendidikan, terutama pendidikan karakter. Pada proses awal penegakan aturan merupakan setting limit, dimana ada batasan yang tegas dan jelas mana yang harus dan tidak harus dilakukan, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak didik. Seperti yang telah dijelaskan dimuka bahwa pendidikan karakter harus melibatkan seluruh komponen lingkungan secara komprehensif. Lingkungan harus di desain sedemikian rupa agar memperoleh hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan. Komponen-komponen tersebut meliputi keluarga, pemerintah dan institusi pendidikan. Dengan demikian penegakan aturan bisa dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan. Sehingga segala kebiasaan baik dari adanya penegakan aturan akan membentuk karakter berprilaku.[53]

Ibnu Sina dalam proses pembelajaran berusaha menghindari penegakan aturan dalam bentuk hukuman, karena ia sangat menghargai martabat manusia. Namun, dalam kondisi terpaksa hukuman dapat dilakukan dengan cara yang amat hati-hati. Ibnu Sina menyadari akan karakteristik manusia yang ingin selalu disayang, tidak suka dengan prilaku kasar, keterlaluan dan bahkan sampai melanggar etika serta bertentangan dengan naluri dasar manusia. Atas dasar pandangan inilah Ibnu Sina sangat membatasi pelaksanaan metode hukuman dalam pembelajaran. Namun ia lebih mengutamakan control berkesinambungan agar pendidikan mengarah kepada tujuan yang diinginkan.[54]

Ibnu Sina membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra hati-hati, dan hal itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal. Sedangkan dalam keadaan normal, hukuman tidak boleh dilakukan. Sikap humanistic ini sangat sejalan dengan alam demokrasi yang menuntut keadilan, kesetaraan, kesederajatan dan sebagainya.[55]

Metode pengajaran kejujuran diatas merupakan mata rantai model yang saling berjalin kelindan antara satu dengan lainnya, saling menguatkan dan saling membangun, sehingga kelimanya menjadi role model pendidikan karakter kejujuran yang sangat adaftif diterapkan di lingkungan sekolah berasrama atau pondok pesantren.

Kelima; proses. Proses meliputi kurikulum, guru, siswa, metode dan lingkungan. Proses merupakan rentetan kegiatan sebagai implementasi dari perencanaan-perencanaan dan pelaksanaan yang dilakukan secara teratur, terukur dan dalam control yang terus menerus serta berakhir dengan kegiatan evaluasi. Proses dalam kegiatan pengajaran kejujuran meliputi; Pertama, Kurikulum yang menjadi manhaj atau pedoman yang terdiri dari perencanaan pembelajaran, maddah atau materi kejujuran, seperangkat media yang digunakan dalam pembelajaran dan evaluasi sebagai alat mengukur tingkat prestasi atau perkembangan kepribadian santri. Kedua, guru. Dalam konsep pengajaran kejujuran, guru lebih berfungsi sebagai pembimbing akademik. Dan bahkan menjadi figur atau model dalam aktifitas sehari-hari. Karena guru dalam konsep pengajaran kejujuran tidak cukup hanya berfungsi sebagai transformer ilmu, tetapi lebih ditekankan pada internalisasi nilai-nilai. Ketiga, siswa. Siswa dalam program pengajaran kejujuran sejatinya adalah siswa yang benar-benar memiliki niat belajar, punya i’tikad untuk berubah dan berkembang serta memiliki motivasi untuk menjadi individu yang beriman dan bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Kelima, lingkungan. Lingkungan adalah semua komponen yang mendukung terciptanya pengajaran kejujuran. Keberadaan alam, adat istiadat, orang-orang yang terlibat dalam proses pendidikan, alat-alat dan media serta Program-program kegiatan yang ada, merupakan lingkungan yang sejatinya terberdaya atau diberdayakan. Lingkungan dalam pendidikan karakter seyogyanya menjadi pendukung terciptanya karakter jujur jika semua saling bersinergi dan berjalin kelindan dalam pemanfaatannya, sebagaimana ilustrasi pada tabel berikut.

Gambar 4.41

           

Keenam; Evaluasi. Evaluasi berasal dari bahasa Inggeris “evaluation” dari akar kata “value” yang berarti nilai atau harga. Dalam bahasa Arab nilai disebut “al-qimah atau al-taqdir”.[56] Dengan demikian secara harfiyah, evaluasi pendidikan disebut “al-taqdir al-tarbawiy” dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.[57] Secara termenologi evaluasi dalam dunia pendidikan mempunyai banyak istilah yang saling berkaitan, yaitu; (1) pengukuran, (2) penilaian, (3) evaluasi, (4) ulangan, dan (5) ujian. Lima istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda tapi bertujuan sama. Intinya adalah mengukur keberhasilan pendidikan. Sedangkan evaluasi dalam penerapan model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) meliputi ; (1) online questions, yaitu kegiatan evaluasi menggunakan soal-soal yang diunggah ke media e-learning. Evaluasi melalui online questions dilakukan sebelum pelaksanaan treatment (pre-test), pada saat pelaksanaan treatment (deepening), dan setelah pelaksanaan treatment (post-test); (2) project, yaitu sekumpulan aktivitas yang saling berhubungan dimana ada titik awal dan titik akhir serta hasil tertentu. Melalui evaluasi ini peserta didik secara berkelompok diminta mendesain kegiatan tertentu yang mencerminkan sikap jujur, (3) product, yaitu evaluasi yang dilakukan untuk menolong pendidik mengambil keputusan mengenai pembelajaran selanjutnya. Dalam kontek pengajaran kejujuran terdapat dua dimensi yang diuji, yaitu output dan outcame. Dalam dimensi output, evaluasi dilakukan untuk menguji sejauh mana pemahaman konsep dan keterampilan peserta didik dalam mengimplementasikan nilai-nilai kejujuran dalam dirinya dalam bentuk tes pada akhir pembelajaran. Sedangkan dalam dimensi outcame, evaluasi dilakukan terhadap produk atau hasil nyata tingkat prilaku jujur siswa, (4) porto polio, adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan cara menilai hasil karya yang berupa sekumpulan tugas, karya, prestasi akademik dan non akademik, baik berupa karangan, lukisan, laporan penelitian, laporan kerja, sertifikat dan piagam, dan (5) performance, adalah proses penilaian terhadap pelaksanaan tugas seseorang atau sekelompok orang sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu. Sedangkan evaluasi performance dalam model pengajaran kejujuran digunakan untuk menilai perkembangan kejujuran peserta didik melalui enam indikator yang ditentukan, yaitu disiplin, amanah, komitmen, konsisten, adil dan berkata benar.

 

Langkah-Langkah Pelaksanaan Treatment

Pelaksanaan model pendidikan karakter kejujuran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berpedoman kepada standar penyelenggaraan penelitian tindakan, yaitu konsep spiralnya Kurt Lewint. Hal itu dilakukan agar hasil dari penelitian bersifat ilmiah dan dapat diterima oleh para pakar pendidikan dan masyarakat pada umumnya. Adapun langkah-langkah pelaksanaan treatment berlangsung sebagai berikut.

Pertama; Perencanaan. Perencanaan meliputi; (1) Setting tempat dan waktu, (2) menentukan pembimbing akademik yang selanjutnya menjadi model dan figur, (3) menentukan 4) Menentukan model pendidikan yang akan digunakan, (5) menentukan materi dan bahan ajar, (6) Menyiapkan media dan alat yang akan dipergunakan, serta (7) menentukan santri kelompok teratment.

Kedua; Tindakan/Treatment. Pelaksanaan tindakan atau teratment meliputi semua proses pendidikan dengan berpedoman kepada kurikulum  yang telah didesain sebelumnya. Termasuk juga melibatkan berbagai elemen yang terkait dengan proses pendidikan, yaitu ; 1) Alat/media, 2) Materi/bahan ajar, 3) Sumber Daya Manusia (SDM), 4) Biaya-biaya, 5) Pelaksanaan dan kontrol, 6) evaluasi, dan termasuk 7) Model pendidikan yang akan digunakan.

Ketiga; Penerapan model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Yaitu metode-metode yang digunakan Rasulullah Saw dalam mendidik para sahabatnya; (1)  Pengajaran. Program pengajaran dilakukan oleh pembimbing akademik dengan menyampaikan materi yang telah disiapkan dan di-share sebelumnya melalui aplikasi e-learning. Guru mendownload materi tersebut dan mengubahkan dalam bentuk desain pembelajaran berbasis multimedia (power point). Sedangkan santri mendowload untuk dibaca dan dipelajari sebelum pembeajaran berlangsung. Pembelajaran berlangsung di ruang laboratorium multimedia yang telah disediakan; (2) Peneladanan. Peneladanan merupakan sebuah metode pendidikan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dimana pembimbing akademik berperan strategis dalam mengimplentasikan model ini; (3) Pembiasaan. Program pembiasaan sebagian sudah berjalan seperti berdoa bersama setiap sesudah shalat, berdoa sebelum tidur, mengucapkan salam setiap bertemu denga teman atau guru, shalat tahajjud pada jam 3.30, shalat dhuha sebelum berangkat ke sekolah, mengambil barang dan membayar sendiri di mini market, makan berjamaah dengan suasana dan cara-cara yang islami, menyetor hafalan al-Qur’an, melaksakan piket kebersihan, melaksanakan piket jaga malam, berolah raga dan bermain seni; (4) Pemotivasian. Program pemotivasian dilakukan langsung oleh pembimbing akademik, baik secara personal maupun kelompok. Baik terjadwal maupun insidentil. Termasuk di dalamnya dilakukan muhasabah usbu’iyyah dalam rangka mengevaluasi program-program yang telah berjalan, stagnan dan atau yang belum berjalan sama sekali pada diri tiap-tiap santri kelompok treatment; dan (5) Penegakan Aturan. Penegakan aturan dilaksanakan atas peran serta dan bekerjasama dengan guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah formal, dengan ketua oraganisasi yang terkait dengan pelanggaran non-formal, serta dengan Direktur Pengasuhan Santri untuk penggalan-pelanggaran yang termasuk kategori berat. Pada masing-masing institusi tersebut sudah ada pedoman pelaksanaan sangsi, sehingga peneliti dan pembimbing akademik hanya melakukan evaluasi melalui data-data yang diberikan.

Keempat; Observasi. Kegiatan observasi dilakukan terhadap data-data yang diperoleh setiap akhir pelaksaan treatment dalam satu siklus; dari siklus 1, 2 dan 3. Data-data tersebut berupa data kualitatif dan kuantitatif. Untuk melihat sejauh mana perkembangan karakter disiplin, peneliti menggunakan absensi pada beberapa program yang dikaitkan dengan program treatment, yaitu absensi masuk sekolah, presensi pelajaran, shalat wajib berjamaah, shalat tahajjud, shalat dhuha, olah raga, pramuka dan kegiatan seni. Adapun program pendidikan yang bersifat abstrak; seperti amanah, komitmen, konsisten, adil dan berkata benar, peneliti menggunakan instrumen angket yang disebarkan kepada orang-orang yang dianggap mengetahui aktivitas kelompok treatment. Orang-orang yang dianggap dekat dan mengetahui aktivitas kelompok treatment antara lain; pembimbing akademik, ketua kamar, wali kelas, bagian dapur umum, staf admin Al-Azhaar Mart, Bagian keamanan Organisasi, Bagian Kebersihan dan lingkungan hidup organisasi dan para kolaborator.

Kelima; Refleksi. Refleksi dilakukan untuk melihat sejauh mana efektifitas pelaksanaan treatment pada setiap siklus. Semua hal dikaji secara komprehensif sebagai bahan evaluasi bagi pelaksanaan treatment berikutnya. Hal-hal yang dievaluasi antara lain ; Waktu, Sumber Daya Manusia, Sarana dan Media, Metode dan Strategi yang meliputi ; Pengajaran, peneladanan, pembiasaan, pemotivasian dan penegakan aturan, dan Pelaksanaan Treatment itu sendiri.

Keenam; Reduksi data. Reduksi data dilakukan setelah semua data diperoleh. Kemudian dipilah menurut jenisnya, apakah data kualitatif ataukah data kuantitatif. Selanjutnya diinterpretasi dengan mencocokkan antara satu data dengan data lainnya. Kemudian meminta pandangan dari pembimbing akademik dan pihak kolaborator. Apakah data-data yang dihasilkan sudah sesuai dengan kondisi karakter santri atau belum. Data-data yang diinterpretasi fokus kepada 6 (enam) indikator karakter jujur, yaitu ;1) disiplin (tepat waktu), 2) Amanah (bertanggung Jawab), 3) Komitmen (menepati janji), 4) Konsisten (Teguh Pendirian), 5) Adil, dan 6) Berkara Benar.

Ketujuh; Kesimpulan. Kesimpulan hasil treatment selalu dilakukan setiap akhir siklus agar menjadi pijakan dan barometer pada pelaksanaan siklus berikutnya. Termasuk juga kesimpulan akhir dari seluruh pelaksanaan tindakan, yaitu kesimpulan hasil antara sebelum dilaksanakannya treatment dan sesudah dilaksanakannya treatment.

 

Pembahasan dan Hasil Penelitian

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dibagi dalam dua kelompok; 1) perkembangan hasil treatment persiklus, dan 2) hasil penilaian antara pre-test dan post-test.

Pertama; Perkembangan hasil persiklus diperoleh sebagai berikut ;

Hasil Treatment siklus ke-1

Pada pelaksanaan siklus ke-1 yang dimulai dari tanggal 25 Februari sampai dengan tanggal 25 Maret 2016, terjadi peningkatan karakter jujur dengan melihat perkembangan hasil treatment, yaitu Disiplin (1,71), Anamah (2,00), Komitmen (1,13), Konsisten (2,20), Adil (1,85) dan Berkata Benar (1,85). Data tersebut mengkonfirmasi bahwa karakter jujur santri meningkat dari 1,71 sebelum adanya treatment menjadi 1,79 sesudah dilaksanakan treatment siklus ke-1.

 

Hasil Treatment siklus ke-2

Hasil yang diperoleh pada akhir treatment siklus ke-2, yang dimulai dari tanggal 26 Maret sampai dengan 26 April 2016 sangat signifikan dan menggembirakan. Dimana data-data yang terkumpul mengkonfirmasi adanya peningkatan karakter pada setiap indikator dengan peningkatan yang sucup drastis, yaitu ; Disiplin (2,52), Amanah (2,48), Komitmen (1,93), Konsisten (2,82), Adil (2,65) dan Berkata Benar (2,54). Jika dibandingkan dengan hasil treatment siklus sebelumnya, peningkatan karakter jujur santri meningkat sangat baik. Dimana nilai rata-rata karakter jujur santri pada siklus ke-1 hanya 1,79, sedangkan nilai rata-rata karakter jujur santri pada akhir siklus ke-2 meningkat menjadi 2,49.

 

Hasil treatment siklus ke-3

Nilai karakter jujur santri pada treatment siklus ke-3 yang dimulai dari tanggal 27 April sampai dngan 27 April 2016 mengalami peningkatan sangat tajam. Data-data yang diperoleh menunjukkan peningkatan sangat tinggi pada setiap indikaotor karakter jujur, yaitu; Disiplin (3,53), Amanah (3.86), Komitmen (3.78), Konsisten (3.87), Adil (3.85) dan Berkata Benar (3.87). Secara keseuruhan terjadi peningkatan dari 2,49 pada siklus ke-2 menjadi 3.79 pada siklus ke-3.

Perkembangan nilai kejujuran santri digambarkan pada grafik berikut.

 

Grafik peningkatan karakter jujur dalam 3 siklus

Kedua; Hasil penilaian pre-test dan pos-test.

Data-data yang diperoleh dari sebaran instrumen kemudian diuji menggunakan 2 rumus uji T, yaitu ; 1) Uji T Berpasangan” atau “Pair T-Test” dan 2) Uji T-Test Korelasi atau “Pair T-Test Correlation”, sebagaimana diuraikan pada tabel-tabel berikut.

Metode Penilian Akhir Menggunakan Pair T-Test Statistic

dan Pair T-Test Correlation

 

N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

X1 Sebelum

55

1.51

2.05

1.7898

.09932

X1 Sesudah

55

3.72

3.94

3.8335

.06464

X2 Sebelum

55

1.14

2.05

1.7025

.20129

X2 Sesudah

55

3.64

3.92

3.8044

.06179

Valid N (listwise)

55

 

 

 

 

Hasil uji T-Test Berpasangan (Pair T-Test) Statistik

Uji T-Test Berpasangan X1 sebelum dan X1 sesudah treatment diketahui sebagai berikut.

Paired Samples Statistics

 

 

Mean

N

Std. Deviation

Std.

Error Mean

Pair 1

X1 Sebelum

1.7898

55

.09932

.01339

X1 Sesudah

3.8335

55

.06464

.00872

 

Paired Samples Test Statistic Pre-Test (X1)

 

Paired Differences

t

df

Sig. (-tailed)

Mean

Std.

Deviation

Std.

Error Mean

95% Confidence

Interval of the Difference

Lower

Upper

Pair 1

X1 Sebelum-

X1 Sesudah

  -2.04364

.10517

.01418

 -2.07207

 -2.01521

 -144.110

54

.000

                   

 

Uji t berpasangan (paired t test) dimaksudkan untuk menguji apakah ada perbedaan rata-rata dua kelompok sampel yang saling berhubungan atau berpasangan.

 

 

Hipotesis:

H0:  Rata-rata  X1 Sebelum dan Rata-rata X1 Sesudah tidak berbeda nyata secara statistik

H1:  Rata-rata  X1 Sebelum dan Rata-rata X1 Sesudah berbeda nyata secara statistik

Dasar Pengambilan Keputusan

Jika probabilitasnya (nilai sig) > 0.05 atau – t tabel< t hitung< t tabel maka H0 tidakditolak

Jika probabilitasnya (nilai sig) < 0.05 atau t hitung< – t tabel atau t hitung> t tabel maka H0 ditolak

Keputusan:

Pada tabel di atas nilai sig = 0.000 < 0.05  sehingga H0 ditolak, yang berarti Rata-rata  X1 Sebelum dan Rata-rata X1 Sesudah berbeda nyata secara statistik.

Rata-rata  X1 Sebelum = 1.79 berbeda nyata dengan Rata-rata X1 Sesudah = 3.83.  Perbedaan itu bukan karena faktor kebetulan akibat pengambilan sampel, tetapi perbedaan itu nyata secara statistik.

Hasil uji T-Test Berpasangan (Pair T-Test) Korelasi

Paired Samples Correlations

 

 

N

Correlation

Sig.

Pair 1

X1 Sebelum & X1 Sesudah

55

.232

.088

 

Analisis Korelasi

Kuat lemahnya hubungan dua variabel ditunjukkan oleh nilai Pearson Correlation (R) dimana nilai secara umum dibagi menjadi sbb:

0 – 0.25     à korelasi sangat lemah

0.25 – 0.50  à korelasi moderat

0.50 – 0.75  à korelasi kuat

0.75 – 1.00  à korelasi sangat kuat

Hipotesis:

H0:  Tidak ada korelasi yang nyata antara X1 Sebelum dan X1 Sesudah

H1:  Ada korelasi yang nyata antara X1 Sebelum dan X1 Sesudah

Dasar Pengambilan Keputusan

Jika probalitasnya (nilai sig) > 0.05 maka H0 tidak ditolak

Jika probalitasnya (nilai sig) < 0.05 maka H0 ditolak

Keputusan:

Pada tabel di atas, nilai sig = 0.232  > 0.05 à H0 tidak ditolak, yang berarti tidak ada korelasi yang nyata antara X1 Sebelum dan X1 Sesudah. 

Dengan demikian maka diperoleh kesimpulan bahwa persepsi guru terhadap perkembangan sikap dan prilaku jujur santri sebelum dan sesudah secara statistik terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil uji t-test berpasangan (pair t-test), dimana nilai sig = 0.000 < 0.05  sehingga H0 ditolak, yang berarti Rata-rata  X1 Sebelum dan Rata-rata X1 Sesudah berbeda nyata secara statistik. Rata-rata  X1 Sebelum = 1.79 berbeda nyata dengan Rata-rata X1 Sesudah = 3.83.  Perbedaan itu bukan karena faktor kebetulan akibat pengambilan sampel, tetapi perbedaan itu nyata secara statistik.

Sedangkan persepsi guru terhadap perkembangan sikap dan prilaku jujur santri secara korelatif tidak berbeda nyata. Hal itu ditunjukkan dari hasil uji t-test correlation X1 sebelum dan X1 sesudah. Dimana nilai sig = 0.232  > 0.05 à H0 tidak ditolak, yang berarti tidak ada korelasi yang nyata antara X1 Sebelum dan X1 Sesudah.

 

Uji Pair T-Test X2 Sebelum dan X2 Sesudah Adanya treatment diketahui sebagai berikut.

Uji T-Test Berpasangan sebelum dan sesudah pelaksanaan treatment pada sampel X2 diketahui sebagai berikut.

Paired Samples Statistics

   

Mean

N

Std. Deviation

Std.

Error Mean

Pair 1

X2 Sebelum

1.7025

55

.20129

.02714

X2 Sesudah

3.8044

55

.06179

.00833

 

Paired Samples Test

 

Paired Differences

t

df

 Sig. (-tailed)

Mean

Std.

Deviation

Std.

Error Mean

95% Confidence

Interval of the Difference

Lower

Upper

Pair 1

X2 Sebelum-

X2 Sesudah

-2.10182       

.17877

.02411

-2.15015

-2.05349

-87.192

54

.000

                   

 

Hipotesis:

H0:  Rata-rata  X2 Sebelum dan Rata-rata X2 Sesudah tidak berbeda nyata secara statistik

H1:  Rata-rata  X2 Sebelum dan Rata-rata X2 Sesudah berbeda nyata secara statistik

Dasar Pengambilan Keputusan

Jika probabilitasnya (nilai sig) > 0.05 atau – t tabel< t hitung< t tabel maka H0 tidak ditolak

Jika probabilitasnya (nilai sig) < 0.05 atau t hitung< – t tabel atau t hitung> t tabel maka H0 ditolak

 

Keputusan:

Pada tabel di atas nilai sig = 0.000 < 0.05  sehingga H0 ditolak, yang berarti Rata-rata  X2 Sebelum dan Rata-rata X2 Sesudah berbeda nyata secara statistik.

Rata-rata  X2 Sebelum = 1.70 berbeda nyata dengan Rata-rata X2 Sesudah = 3.80.  Perbedaan itu bukan karena faktor kebetulan akibat pengambilan sampel, tetapi perbedaan itu nyata secara statistik

Dengan demikian, dapat dinyatakan pada kesimpulan akhir penelitian ini bahwa “Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi” sangat berpengaruh signifikan terhadap internalisasi karakter jujur. Sebagaimana dikonfirmasi oleh hasil Paired T-Test (T-Test Berpasangan) terhadap nilai rata-rata sebelum dan sesudah treatment. Dengan keputusan ;

Paired Samples Correlations (X2)

   

N

Correlation

Sig.

Pair 1

X2 Sebelum & X2 Sesudah

55

.232

.088

 

Analisis Korelasi

Kuat lemahnya hubungan dua variabel ditunjukkan oleh nilai Pearson Correlation (R) dimana nilai secara umum dibagi menjadi sbb:

0 – 0.25     à korelasi sangat lemah

0.25 – 0.50  à korelasi moderat

0.50 – 0.75  à korelasi kuat

0.75 – 1.00  à korelasi sangat kuat

Hipotesis:

H0:  Tidak ada korelasi yang nyata antara X2 Sebelum dan X2 Sesudah

H1:  Ada korelasi yang nyata antara X2 Sebelum dan X2 Sesudah

 Dasar Pengambilan Keputusan

Jika probalitasnya (nilai sig) > 0.05 maka H0 tidak ditolak

Jika probalitasnya (nilai sig) < 0.05 maka H0 ditolak

Keputusan:

Pada tabel di atas, nilai sig = 0.000  < 0.05 à H0 ditolak dan diterima H1, yang berarti ada korelasi positif yang nyata antara X2 Sebelum dan X2 Sesudah.  Koefisen korelasi R = 0.498 menunjukkan tingkat hubungan kedua variabel pada tingkat moderat untuk skala 0 – 1.

Dengan demikian maka diperoleh kesimpulan bahwa penilaian diri santri terhadap perkembangan sikap dan prilaku jujur sebelum dan sesudah adanya treatment secara statistik terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil uji t-test berpasangan (pair t-test), dimana nilai sig = 0.000 < 0.05  sehingga H0 ditolak, yang berarti Rata-rata  X2 Sebelum dan Rata-rata X2 Sesudah berbeda nyata secara statistik.

Rata-rata  X2 Sebelum = 1.70 berbeda nyata dengan Rata-rata X2 Sesudah = 3.80.  Perbedaan itu bukan karena faktor kebetulan akibat pengambilan sampel, tetapi perbedaan itu nyata secara statistik

Sedangkan penilaian diri santri terhadap perkembangan sikap dan prilaku jujur secara korelatif berbeda nyata. Hal itu ditunjukkan dari hasil uji t-test correlation X2 sebelum dan X2 sesudah. Dimana nilai nilai sig = 0.000  < 0.05 à H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti ada korelasi positif yang nyata antara X2 Sebelum dan X2 Sesudah.  Koefisen korelasi R = 0.498 menunjukkan tingkat hubungan kedua variabel pada tingkat moderat untuk skala 0 – 1.

Perbedaan nyata dan peningkatan hasil treatment Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), antara sebelum dan sesudah adanya treatment ditunjukkan pada grafik berikut.

Grafik Peningkatan Sikap dan Prilaku Jujur Sebelum dan Sesudah Treatment

Hasil Penelitian ini antara lain;

  1. Penerapan Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi berpengaruh sangat signifikan terhadap terinternalisasinya sikap dan prilaku jujur santri (peserta didik).

  2. Menemukan Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikai (TIK).

 

KESIMPULAN

Dari seluruh proses penelitian yang berlangsung dari tanggal 25 Februari sampai dengan 27 April 2016, akhirnya penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut ;

  1. Nilai kejujuran santri Pondok Pesantren Al-Azhaar sebelum adanya treatment treatment.

Karakter jujur santri pada saat observasi awal sebelum pelaksanaan tindakan diketahui Sangat Tidak Baik (STB) 40,81%, Tidak Baik (TB) 33,1%, Baik (B) 21,19% dan Sangat Baik (SB) sebanyak 4,81%. Data tersebut diambil dari 20 orang persepsi guru dan 55 orang penilaian diri santri. Dengan nilai rata-rata 1,79. Data diatas mengkonfirmasi bahwa nilai kejujuran santri masih sangat lemah dan dicitrakan Sangat Tidak Baik (STB).

Data tersebut diperkuat oleh hasil uji t-test berpasangan (pair t-test), dimana nilai sig = 0.000 < 0.05  sehingga H0 ditolak, yang berarti Rata-rata  X1 Sebelum dan Rata-rata X1 Sesudah berbeda nyata secara statistik. Rata-rata  X1 Sebelum = 1.79 berbeda nyata dengan Rata-rata X1 Sesudah = 3.83.  Perbedaan itu bukan karena faktor kebetulan akibat pengambilan sampel, tetapi perbedaan itu nyata secara statistic.

 

  1. Langkah-langkah pelaksanaan treatment Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Langkah-langkah pelaksanaan treatment dilakukan sebagai berikut;

  1. Perencanaan;

  2. Tindakan yang meliputi;

  • Pengajaran;

  • Peneladanan;

  • Pembiasaan;

  • Pemotivasian;

  • Penegakan Aturan

  1. Observasi;

  2.  
  3. Respon santri Pondok Pesantren Al-Azhaar dalam mengikuti treatment Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Respon santri dalam mengikuti treatment model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ditunjukkan dengan peningkatan angka partisipasi santri dalam mengikuti treatment persiklus.

Treatment Siklus 1  : 1,79

Treatment Siklus 2   : 2,49

Treatment Siklus 3  :  3,79

  1. Peningkatan nilai kejujuran santri Pondok Pesantren Al-Azhaar setelah adanya treatment.

Nilai kejujuran santri Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau setelah adanya  treatment model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ditunjukkan dengan sebanyak 16,815% guru dan santri menyatakan bahwa karakter santri sangat tidak baik dan tidak baik. Sedangkan lainnya sebanyak 83,185% menyatakan baik dan sangat baik. Dari data diatas terkonfirmasi bahwa nilai kejujuran santri mengalami peningkatan signifikan, sebagaimana ditunjukkan oleh uji pair t-test dengan hasil nilai sig = 0.000 < 0.05  sehingga H0 ditolak, yang berarti Rata-rata  X2 Sebelum dan Rata-rata X2 Sesudah berbeda nyata secara statistik.

Rata-rata  X2 Sebelum = 1.70 berbeda nyata dengan Rata-rata X2 Sesudah = 3.80.  Perbedaan itu bukan karena faktor kebetulan akibat pengambilan sampel, tetapi perbedaan itu nyata secara statistik

Dengan demikian, dapat dinyatakan pada kesimpulan akhir penelitian ini bahwa “Model Pendidikan Karakter Kejujuran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi” sangat berpengaruh signifikan terhadap internalisasi karakter jujur. Sebagaimana dikonfirmasi oleh hasil Paired T-Test (T-Test Berpasangan) terhadap nilai rata-rata sebelum dan sesudah treatment. Dengan keputusan ;

 

DAFTAR PUSTAKA
Aan Hasanah, Pendidikan Karakter Berperspektif Islam, Insan Komunika, Bandung, 2013
Adrian. (2004). Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa. [Online] Tersedia: http://www. artikel.us_art05-65.html [18 September 2016].
Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif, Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam, Malang : UIN Maliki Press, 2011
Anas Sudiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, PT.Grafindo Persada, Jakarta, 2005
Al-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, Beirut:Dar al-Fikr, t.th.
Asy-Syaikh Al-Imam Az-Zarnuji, disunting oleh Sonhaji Muslih, Lc, Taklimul Muta’allim, Iqro Media, Jakarta, 2016
Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999.
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta, 2001
Hitlin, Steven dan Stephen Vaisey (ed), Handbook of The Sociology of Morality, New York : Springer, 2010.
Latuheru, Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini, Jakarta, Depdikbud,1988.
  1. Affan Hasyim, et. al, Menggagas Pesantren Masa Depan, Qirtas, Yogyakarta, Cet. I, 2003
Noerkholis Majid, Bilik-Bilik Pesantren, Dian Rakyat, Jakarta, 2003
Nur Dwiastuti, Abdullah Nashih Ulwan dan Aktualisasinya Dalam Kepribadian Guru:Telaah Kitab Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam. Tesis pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.
Ni’matulloh.et. all, Pendidikan Karakter Dalam Persfektif Pendidikan Islam, (http://nimatlloh. blogspot.com, diakses pada tanggal 20 Februari 2016) 
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2002
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2015
Sa’id Aqiel Siradj, et. al, Pesantren Masa Depan, Pustaka Hidayah, Bandung, Cet. I, 1999
Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, Ar-ruzz Media, Yogyakarta, 2011.
Sadiman, Media Pendidilkan Pengertian, Pengembanagn dan Pemanfaatan, Jakarta : CV. Raja Wali,1984
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005
Usman, Moh. Uzer,  Menjadi Guru Profesional, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994
 

Sumber Internet ;

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/05/150513_majalah_asia_sekolah_terbaik
https://almanhaj.or.id/3347-etika-orang-beriman-ucapan-yang-baik-memuliakan-tetangga-dan-menghormati-tamu.html, diakses tgl. 2 Juni 2016
https://almanhaj.or.id/3347-etika-orang-beriman-ucapan-yang-baik-memuliakan-tetangga-dan-menghormati-tamu.html, diakses tgl. 2 Juni 2016
http://risetpendidikangmarfu’.com, Diakses pada tanggal 20 Februari 2016.  
 http://pabook2.libraries.psu.edu/palitmap/bios/Baldwin-Leland-Dewitt.html. diakses tgl. 21 April 2016, jam. 20.04
 
Sumber AlQAur’an ;
QS-Az-Zumar [39]:33
  1. Al-Ma’idah [4] : 8
  2. al-Jinn [72] :16
  3. At-Tahrim [66] : 6
  4. An-Nisa [4]:59
  5. Al-Baqarah [2] : 30
QS, Al-Maidah [5]:1
  1. An-Nisa [5]:120
Q.S. al-Ahzab [33]: 7-8.
 
Sumber Hadits ;
  1. Muslim (no. 38), Ahmad (III/413; IV/384-385), at-Tirmidzi (no. 2410), an-Nasâ-i dalam as-Sunanul Kubra (no. 11425, 11426, 11776), Ibnu Mâjah (no. 3972)
  2. Shahih Muslim, no. 2607, Shahih Bukhori, no. 6094 dan Imam Ahmad I/384.
  3. Shohih Bukhari No. 1296, dan Musnad Ahmad No. 14277
  4. Al-Bukhâri (no. 6018, 6136, 6475), Muslim (no. 47), Ahmad (II/267, 433, 463), Abu Dawud (no. 5154), at-Tirmidzi (no. 2500), Ibnu Hibban (no. 507, 517-at-Ta’lîqâtul-Hisân), al-Baihaqi (VIII/164).
  5. Muslim (no. 38), Ahmad (III/413; IV/384-385), at-Tirmidzi (no. 2410), an-Nasâ-i dalam as-Sunanul Kubra (no. 11425, 11426, 11776), Ibnu Mâjah (no. 3972)
  6. Al-Bukhâri (no. 6018, 6136, 6475), Muslim (no. 47), Ahmad (II/267, 433, 463), Abu Dawud (no. 5154), at-Tirmidzi (no. 2500), Ibnu Hibban (no. 507, 517-at-Ta’lîqâtul-Hisân), al-Baihaqi (VIII/164).
 
[1] Al-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an (Beirut:Dar al-Fikr, t.th.), hlm.63
[2] Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif, Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam, (Malang : UIN Maliki Press, 2011),hlm.23
[3]https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=217079748372306&id=181379705275644
[4]http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/05/150513_majalah_asia_sekolah_terbaik
[5] https://nasional.tempo.co/read/news/2009/02/24/079161806/sarjana-menganggur-di-indonesia-hampir-sejuta, didownload tanggal 24 Juni 2016
[6] Sa’id Aqiel Siradj, et. al, Pesantren Masa Depan, (Pustaka Hidayah, Bandung, Cet. I, 1999), hlm. 201-202
[7] M. Affan Hasyim, et. al, Menggagas Pesantren Masa Depan, (Qirtas, Yogyakarta, 2003), Cet. I, hlm. 61-62
[8] M. Affan Hasyim, et. al, Menggagas Pesantren Masa Depan, Qirtas, Yogyakarta, Cet. I, 2003, hal. 62-63
[9] Noerkholis Majid, Bilik-Bilik Pesantren (Dian Rakyat, Jakarta, 2003), hlm. 37
[10] Usman, Moh. Uzer,  Menjadi Guru Profesional, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994), hlm. 54
[11] Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, (Bumi Aksara, Jakarta, 2001), hlm. 116
[12] Adrian. (2004). Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa. [Online] Tersedia: http://www. artikel.us_art05-65.html [18 September 2016].
[13] Ibid.
[14] Al-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an (Beirut:Dar al-Fikr, t.th.), hlm 277
[15] Hasil identifikasi penulis terhadap kata-kata yang mengandung makna jujur, kejujuran dan orang jujur.
[16] Al-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an (Beirut:Dar al-Fikr, t.th.), hlm 114
[17] Jurjani, at-Ta’rifat, hlm 132
[18] Shahih Muslim, no. 2607, Shahih Bukhori, no. 6094 dan Imam Ahmad I/384.
[19] Leland Dewitt Baldwin adalah seorang sejarawan terkenal Amerika. Ia lahir pada tanggal 23 November, 1897, di Fairchance, Fayette Country. Baldwin adalah anak Harmon Allen dan Etta Weatherly Baldwin. Ayah Baldwin adalah seorang penginjil Methodist terkenal Lembah Ohio. Sebagai bagian dari misi agama, ayah Baldwin menulis sejumlah teks teologis, termasuk Pelajaran untuk Pencari Kekudusan, berdiamnya Kristus, dan Kekudusan dan Elemen Manusia. Sumber ; http://pabook2.libraries.psu.edu/palitmap/bios/Baldwin-Leland-Dewitt.html. diakses tgl. 21 April 2016, jam. 20.04
[20] Marfu`, Perbedaan pendidikan karakter dengan pendidikan akhlak, pendidikan moral, dan pendidikan nilai, http:// risetpendidikangmarfu’.com, Diakses pada tanggal 20 Februari 2016. 
[21] Contoh seorang perampok yang selain merampok ia memperkosa istri pemilik rumah. Kemudian di pengadilan dia meminta keringanan hukuman dan bahkan pembebasan. Di sisi lain, pemilik rumah menginginkan perampok itu dihukum seberat-beratnya bahkan hukuman mati. Dalam posisi seperti ini perampok akan sangat sulit menempatkan dirinya pada posisi pemilik rumah yang teraniaya. Sebaliknya, pemilik rumah juga akan sangat sulit menempatkan dirinya dalam posisi terpidana yang mengharapkan kemaafan dan kebebasan. Bagaimana mencari titik temu kebenaran nilai universal berpedoman pada prinsip reversibility dalam kasus ini? Demikian pula dengan prinsip universability. Prilaku manakah yang kita inginkan atas semua manusia: memaafkan atau menuntut hukuman? Apakah memaafkan bukan nilai yang baik secara universal? Lihat; Sri Narwanti, hlm. 24
[22] Ni’matulloh.et. all, Pendidikan Karakter Dalam Persfektif Pendidikan Islam, (http://nimatlloh. blogspot.com, diakses pada tanggal 20 Februari 2016) 
[23] Hitlin, Steven dan Stephen Vaisey (ed), Handbook of The Sociology of Morality, New York : Springer, 2010, hal. 39
[24] Hitlin, Steven dan Stephen Vaisey (ed), Handbook of The Sociology of Morality, New York : Springer, 2010, hlm.40
[25] Ibid, hlm.56
[26] QS. At-Tahrim [66] : 6
[27] HR. Shohih Bukhari No. 1296, dan Musnad Ahmad No. 14277
[28] Asy-Syaikh Imam Az-Zarnuji, disunting oleh Sonhaji Muslih, Lc, Taklimul Muta’allim, (Iqro Medi, Jakarta, 201), hlm. 21
[29]
[30] QS. An-Nisa [4]:59
[31] QS. Al-Baqarah [2] : 30
[32] QS, Al-Maidah [5]:1
[33] QS. An-Nisa [5]:120
[34] Q.S. al-Ahzab [33]: 7-8.
[35] QS. al-Jinn [72] :16
[36] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 38), Ahmad (III/413; IV/384-385), at-Tirmidzi (no. 2410), an-Nasâ-i dalam as-Sunanul Kubra (no. 11425, 11426, 11776), Ibnu Mâjah (no. 3972)
[37] Hasil identifikasi penulis terhadap kata-kata adil. Baik yang berntuk fi’il maupun isim
[38] QS. Al-Ma’idah [4] : 8
[39] HR. Al-Bukhâri (no. 6018, 6136, 6475), Muslim (no. 47), Ahmad (II/267, 433, 463), Abu Dawud (no. 5154), at-Tirmidzi (no. 2500), Ibnu Hibban (no. 507, 517-at-Ta’lîqâtul-Hisân), al-Baihaqi (VIII/164).
Sumber: https://almanhaj.or.id/3347-etika-orang-beriman-ucapan-yang-baik-memuliakan-tetangga-dan-menghormati-tamu.html, diakses tgl. 2 Juni 2016
[40] QS-Az-Zumar [39]:33
[41] Dr.Hj. Aan Hasanah, M.Ed adalah Wakil Dekan I (Bidang Akademik), lahir di Bandung, 16 Agustus 1963, Beliau juga peraih gelar Doktor ke 55 dan 23 dibidang Doktor Pendidikan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan IPK 3,73 Cum Laude, dengan disertasi berjudul “ Pendidikan Karakter Berperspektif Islam”.
[42] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Kalam Mulia, Jakarta, 2015), cet.ke-12, hlm.232
[43] Latuheru, Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini, (Jakarta, Depdikbud,1988), hlm.11
[44] Sadiman, Media Pendidilkan Pengertian, Pengembanagn dan Pemanfaatan,(Jakarta : CV. Raja Wali,1984). Hlm 6
[45] Aan Hasanah, Pendidikan Karakter Berperspektif Islam, (Insan Komunika, Bandung, 2013), hlm.118
[46] Aan Hasanah, Pendidikan Karakter Berperspektif Islam,  hlm.134
[47] Ibid.
[48] Aan Hasanah, Pendidikan Karakter Berperspektif Islam, (Insan Komunika, Bandung, 2013), hlm.13
[49] Nur Dwiastuti, Abdullah Nashih Ulwan dan Aktualisasinya Dalam Kepribadian Guru:Telaah Kitab Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam. Tesis pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.
[50] Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005
[51] Ibid.
[52] Aan Hasanah, Pendidikan Karakter Berperspektif Islam, (Insan Komunika, Bandung, 2013), hlm.137
[53] Aan Hasanah, hlm. 138
[54] Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999, hlm 83
[55] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, Ar-ruzz Media, Yogyakarta, 2011, hlm. 85-86
[56] Anas Sudiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (PT.Grafindo Persada, Jakarta, 2005) hlm.1
[57] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Kalam Mulia, Jakarta, 2002) hlm. 331

 

 

 

 

 

Top