Profil Kami

Sejak pertama kali dibuka, Institut Agama Islam Al-Azhaar Lubuklinggau sudah memiliki gagasan dan cita-cita untuk mendirikan program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Program Pascasarjana dalam kajian Islam (Islamic Studies). Tepatnya semenjak STAI Al-Azhaar Lubuklinggau naik status dan berubah menjadi Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhaar pada akhir tahun 2014. Perguruan tinggi ini sudah bertekad untuk mendirikan program studi tersebut dalam mewadahi tuntutan umat Islam akan ketersediaan tenaga ahli Pendidikan Agama Islam (PAI) serta praktisi dalam bidang pekerjaan PAI yang berkualifikasi pendidikan magister (S2). Keinginan ini belum segera terwujud disebabkan oleh banyak kendala dan keterbatasan yang menghadang. Meskipun demikian, cita-cita pendirian prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) ini tidak pernah surut untuk diperjuangkan oleh para pimpinan IAI Al-Azhaar Lubuklinggau dalam berbagai forum dan kesempatan pada tingkat lokal maupun nasional.

Keinginan untuk membuka program studi Pendidikan Agama Islam dalam Islamic Studies tampaknya sekarang ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Hal ini dilatarbelakangi oleh dua pertimbangan. Pertama,  adanya tuntutan yang mendesak dari masyarakat (guru pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah yang ada di Kota Lubuklinggau, Kab. Musi Rawas, Kab. Muratara, dan Kab. Empat Lawang, baik negeri maupun swasta serta alumni IAI Al-Azhaar di empat daerah tersebut) untuk menempuh Pendidikan di Sekolah Pascasarjana dengan Prodi Pendidikan Agama Islam. Hal ini sangat penting untuk memberi penguatan, pendalaman, pembaharuan (update) dan pengayaan materi kajian Islam yang memiliki fokus di bidang Pendidikan Agama Islam secara komprehensif dengan kemasan yang menarik. Di samping itu, IAI Al-Azhaar Lubuklinggau sejak tahun 2008/2009 telah menyiapkan program Strata 1 unggulan, dengan harapan dapat mem-back up Program Sarjana Strata Dua (S-2) yang dicanangkan ini agar lebih berperan secara akademis dan semakin mendapat pengakuan masyarakat yang sangat konsern terhadap dunia pendidikan tinggi.

Kedua, Kota Lubuklinggau dan sekitarnya (Kab. Musi Rawas, Kab. Muratara, dan Kab. Empat Lawang),  belum memiliki program studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Sarjana Strata Dua (S-2), apalagi dengan pendekatan integrasi. Padahal keberadaan Prodi ini penting sekali ketika umat Islam di Kota Lubuklinggau tengah berdialektika dengan modernitas yang di dalamnya sarat dengan problem-problem sosial, ekonomi, politik dan sebagainya- yang membutuhkan sentuan mendalam dari Pendidikan Agama Islam dengan metode yang upto-date yang kuat dari para ahli keislaman yang berpendidikan magister atau lebih tinggi. Ketiga, IAI Al-Azhaar Lubuklingau sudah memiliki 1 tenaga pengajar dengan kualifikasi pendidikan S3, 3 orang dosen tetap sedang melanjutkan studi S3 (Doktor dalam bidang Pendidikan Agama Islam) dan beberapa doktor pensiunan UIN Raden Fatah Palembang yang diangkat sebagai dosen tetap IAI Al-Azhaar. Hal tersebut dipandang memadai sehingga sangat dapat membuka prodi dimaksud. Keberadaan prodi Pendidikan Agama Islam secara tidak langsung akan menjadi wadah  yang secara sungguh-sungguh dalam menekuni dan mempelopori upaya pengkajian dan penelitian terhadap ilmu-ilmu pendidikan Agama Islam di Lubuklinggau dan sekitarnya, yaitu Kab. Musi Rawas, Kab. Muratara, dan Kab. Empat Lawang.

Top